BERBAKTI DAN MENGABDI

BERBAKTI DAN MENGABDI

Selasa, 07 Februari 2012

BAHASA NASIONAL: KEBANGGAAN DAN IDENTITAS BANGSA

 
Oleh : Dadan Wahyudin
dimuat di Majalah ISMA Cianjur Edisi 114 Tahun XIII, 23 Januari - 22 februari 2012 

Bangsa Indonesia cukup beruntung memiliki bahasa nasional sekaligus berfungsi sebagai bahasa negara yang proses pemilihannya relatif mulus. Sejumlah negara dihadapkan pada proses rumit dalam penentuan lambang kebanggaan dan identitas bangsanya. Tak jarang gejolak sosial-politik  menyertainya.

Filipina merupakan negeri tetangga memiliki historia serupa dengan Indonesia. Saat itu Portugis dan Spanyol terlibat konflik di Maluku. Mereka menyepakati perjanjian, Spanyol  mendapatkan Filipina dan Portugis di Maluku.  Akan tetapi serangan Belanda, membuat Portugis lari dan  akhirnya bertahan di Timor Timur. Tahun 1892, Spanyol ditaklukan AS. 

Filipina pernah mengalami ketegangan politik dalam menentukan bahasa nasionalnya. Sejak merdeka tahun 1946 hingga 1972, Filipina mengambil bahasa Spanyol sebagai bahasa resmi kenegaraan. Kemudian memilih bahasa “Pilipino” (dengan huruf “P” berdasarkan bahasa Tagalog) sebagai bahasa nasional dan ternyata kurang berkenan di hati rakyatnya. Pasalnya, bahasa Tagalog hanyalah salah satu bahasa suku dominan, tetapi tidak dipahami oleh suku-suku lain. Tahun 1973, Majelis Konstituante Filipina menetapkan bahasa “Filipino” (dengan huruf “F”) sebagai bahasa nasional dan akan didasarkan pada semua bahasa daerah di Filipina. Adapun bahasa resmi kenegaraan, Filipina memilih bahasa Inggris yang diadopsi dari penjajah terakhirnya yaitu AS. Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa komunikasi antarsuku secara wilayah luas di Filipina.

Bangsa India akhirnya memilih bahasa Inggris menjadi bahasa negara karena bahasa Inggris telah menjadi “lingua-franca” di antara beragam suku di jazirah India.  Untuk meredam gejolak sosial, India menggunakan bahasa nasional lebih dari satu yaitu bahasa Hindi, bahasa Benggali, bahasa Tamil dan bahasa Malayalam. Masalah kebahasaan di negara kecil Singapura terbilang ruwet.  Singapura memiliki tiga etnis utama yaitu Cina, India dan Melayu. Singapura akhirnya memilih satu bahasa nasional yaitu bahasa Melayu dan empat bahasa resmi negara yaitu bahasa Melayu, bahasa Hindi, bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Akan tetapi dalam praktiknya penggunaan bahasa Inggris lebih dominan. 

Perjuangan menentukan bahasa nasional bagi negara sekelas Amerika Serikat bukan pekerjaan mudah.  AS baru menentukan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi negara pada 18 Mei 2006. Di Kongres, suara yang menyetujui bahasa Inggris sebagai bahasa nasional berjumlah 64 orang dibanding 34 yang tidak menyetujui. Urutan kedua adalah bahasa Spanyol karena memang kantong-kantong etnis Spanyol banyak tinggal di Amerika, dan urutan ketiga bahasa Jerman. Perjuangan menentukan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional dimulai sejak 1981. Banyak warga AS menginginkan kemajemukan bahasa diwadahi, seperti kemajemukan etnik dan budaya dan tidak ada sebuah bahasa  yang lebih dominan dari yang lain, sehingga tidak perlu bahasa nasional.

Bersitegang
Kasus pertentangan politik akibat bahasa, salah satunya terjadi di Quebec, Kanada.  Perdebatan bermula sejak tahun 1960, antara penduduk Quebec yang bersikukuh dengan bahasa Perancis dan penduduk daerah lain berbahasa Inggris. Bahasa Perancis sangat dominan di negara bagian Quebec (setingkat provinsi), sementara bahasa nasional Kanada  menggunakan bahasa Inggris.  Konflik ini berujung pada tuntutan pemisahan Quebec menjadi negara merdeka.  Referendum pun dilakukan pada tanggal 30 Oktober 1995. Mosi pemisahan Quebec dari Kanada akhirnya dikalahkan dalam perolehan suara pro-integrasi dengan Kanada (50,58 persen) dengan perbedaan amat tipis yakni  49,42 persen untuk pendukung pemisahan wilayah. 

Sementara Belgia di Eropa negeri berpenduduk 10,6 juta jiwa dan dikenal sebagai markas besar NATO-nya dikoyak ketegangan berkelanjutan akibat penggunaan bahasa.  Problematika itu menjadi persoalan serius mengancam disintegrasi bangsa dan sering menumbangkan rezim berkuasa. Belgia memiliki tiga bahasa dominan, yakni bahasa Belanda, Perancis, dan minoritas Jerman. Pengguna bahasa Belanda merupakan mayoritas, yakni 6 juta jiwa dan disusul  bahasa Perancis sebesar 3,5 juta jiwa, dan  bahasa minoritas Jerman sekitar 1 juta jiwa.

Kondisi penutur bahasa Belanda secara status sosial relatif lebih makmur, selama bertahun-tahun merasa didominasi oleh masyarakat berpenutur bahasa Perancis. Ini terjadi sejak Revolusi 1803. Di Belgia, seolah ada garis imajiner memisahkan kantong-kantong pengguna kedua bahasa ini.  

Bagi warga Belgia berbahasa Belanda, dominasi bahasa Perancis dalam kehidupan bernegara merupakan bentuk lain dari penjajahan. Hampir seratus tahun, pergerakan Flemish memperjuangkan agar bahasa Belanda dipakai di pemerintahan, pengadilan, sekolah, dan ketentaraan di Flandria (wilayah berpenutur bahasa Belanda) dan pada akhirnya konstitusi versi bahasa Belanda baru berhasil ditulis.  Hasil pertama dari tuntutan ini tercapai tahun 1921, ketika badan legislatif Belgia menetapkan bahwa bahasa Belanda sebagai bahasa resmi di propinsi-propinsi di Flandria dan bahasa Prancis menjadi bahasa resmi di propinsi-propinsi di Wallonia. Kota Brussel sebagai ibukota negara ditetapkan sebagai daerah khusus bilingual (dua bahasa adalah bahasa resmi).

Sejarah Bahasa Indonesia
 Indonesia beruntung dalam memilih bahasa nasional dan bahasa resmi negaranya relatif mulus. Begitupula Malaysia memilih bahasa Malaysia (sama-sama berbasis bahasa Melayu) sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara, meskipun golongan “atasan” lebih senang menggunakan bahasa Inggris. Antara tahun 1957-1967 Malaysia menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi.

Penetapan bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa nasional  didasari kenyataan bahwa bahasa Melayu sejak abad ke-16 telah digunakan sebagai bahasa “lingua-franca” di seluruh Nusantara.  Meskipun jumlah penuturnya relatif kecil (4,9%) dibandingkan penutur bahasa Jawa dan Sunda, tetapi wilayah pemakaian bahasa Melayu cukup luas meliputi sepanjang timur pantai Sumatera, Semenanjung Malaya, wilayah selatan Thailand, serta pesisir Jawa dan Kalimantan.  Bahkan bahasa Melayu pijin (pasar) digunakan mencapai di wilayah timur Indonesia seperti: Ambon, Ternate, Manado, Jayapura, Kupang hingga Merauke. Karena minoritas ini pula diyakini mampu meredam konflik, berbeda jika pemilihan bahasa nasional menggunakan salah satu bahasa daerah dominan (bahasa Jawa atau Sunda). Bahasa Jawa dan Sunda meskipun memiliki penutur peringkat satu dan dua di Nusantara, tetapi hanya mendiami suatu wilayah tertentu.   

Bahasa Melayu telah mengalami proses standarisasi, terutama melalui sistem pendidikan kolonial Belanda. Pembakuan ejaan pertama kali dilakukan tahun 1901 oleh sarjana Belanda bernama Ch. A. van Ophuijsen yang diberi tugas melakukan hal ini dan dari karyanya dikenal ”ejaan van Ophuijsen”.  Di tahun 1947, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Mr. Suwandi merevisi ejaan tersebut, hasilnya ejaan lebih sederhana yang disebut “ejaan Suwandi” atau “ejaan Republik”.  Proses pembakuan bahasa Indonesia terus mengalami perbaikan dan pemerintah menetapkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) tahun 1972. Untuk mempermudah pembakuan bahasa Indonesia, tahun 1988 diterbitkan “Kamus Besar Bahasa Indonesia” dan “Tata Baku Bahasa Indonesia”.  

Sementara lembaga bertugas dalam perencanaan bahasa di Indonesia dimulai dengan berdirinya “Commisie voor de Volkslectuur” di masa pemerintah kolonial tahun 1908, kemudian berubah menjadi “Balai Pustaka” tahun 1917. Tahun 1942, pemerintah pendudukan Jepang mendirikan “Komisi Bahasa Indonesia”.  Sesudah merdeka, tahun 1947 dibentuklah “Panitia Pekerja Bahasa Indonesia” bertugas mengembangkan peristilahan, menyusun tata bahasa sekolah dan menyiapkan kamus baru untuk pengajaran bahasa Indonesia di sekolah. Setahun kemudian 1948 diubah menjadi “Balai Bahasa” dan sejak 1 April 1975 berubah menjadi “Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa” yang bertugas sebagai pelaksana kebijakan di bidang penelitian dan pengembangan bahasa.

Dukungan politis terhadap perkembangan dan pengindonesiaan sejumlah istilah asing dalam bahasa Indonesia secara hierarki dapat diurutkan: (1) Sumpah Pemuda 1928; (2) UUD 1945, Bab XV Pasal 36 tentang bahasa negara: (3) Keputusan Presiden Republik Indonesia No.57 Thn.1972 tentang penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan; (4) Instruksi Menteri Dalam Negeri RI No.20 tanggal 28 Oktober 1991 tentang pemasyarakatan bahasa Indonesia dalam rangka pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa;  (5) Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.1/U/1992 tgl 10 April 1992 tentang usaha peningkatan usaha pemasyarakatan bahasa Indonesia dalam memperkukuh persatuan dan kesatuan dan kesatuan bangsa; dan  (6) Surat Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia kepada gubernur, walikota, dan bupati nomor 434/1021/SJ tgl 16 Maret 1995 tentang penertiban penggunaan istilah asing.  

Peran dan kedudukan bahasa Indonesia semasa era Sumpah Pemuda 1928 dikenal sebagai  bahasa pemersatu dan alat perjuangan nasional saat itu.  Kemudian diperkuat oleh konstitusi, dalam UUD 1945 Bab XV pasal 36 menyatakan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia menjalankan tugas sebagai (1) Lambang kebanggaan negara; (2) Lambang identitas nasional; (3) Alat perhubungan antar warga, antardaerah, dan antarbudaya; (4) Alat untuk menyatukan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing.  Dalam kedudukan sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berperan sebagai: (1) Bahasa resmi kenegaraan; (2) Bahasa pengantar di dunia pendidikan; (3) Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan; (4) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. 

Proses perjalanan menentukan bahasa nasional bagi suatu bangsa ternyata tidaklah mudah. Berbanggalah dengan bangsa Indonesia yang telah merumuskan dan memilih  bahasa nasionalnya secara baik.  Hal ini menuntut konsekuensi bagi penggunanya, yakni wajib memelihara dan menggunakannya dengan berbahasa yang baik dan benar serta santun. **** (diolah dari berbagai sumber)


Penulis, mahasiswa PBSI S2
Universitas Suryakancana Cianjur.

Minggu, 05 Februari 2012

HURUP R (Dadan Wahyudin, dimuat di rubrik Kolom, Mangle 2359, 2-8 Februari 2012)

Siap geRRRRRak!! ada huruf R nya euy...

Hurup [r] minangka hurup pituin boh dina bahasa Indonésia ogé bahasa Sunda. Pikeun nu cadél, hurup [r] mangrupa hurup anu hésé dikedalkeun ku lisan kalayan béntés. Aya oge nu sok ngahaja nyingkahan hurup [r] nalika nyebut kecap “Jaka[r]ta” sok dilandi ku kecap “ibukota” anu boga harti sarupa. Kecap “o[r]ay” dilandi ku “cacing badag”. Kacapangan budak cadél sok ditanggap ngedalkeun kecap-kecap anu ngandung hurup [r] resep ku lucuna. Ngarah lancar ngedalkeun hurup [r], mangsa balita (barudak lima taun) ku kolot urang baheula mindeng diajaran kalimah “laleur mapay areuy” pikeun ngalatih hurup [r] sacara lisan sakaligus ngabedakeun jeung hurup [l] anu méh sabangun.

Urang Sumatra nalika nyebut hurup [r] di tengah kecap saperti: pergi, bekerja, atawa beternak, nu kakedalkeun téh ukur : pe[:]gi. Beke[:]ja, atawa bete[:]nak. Tétéla hurup [r] hésé dikedalkeuna.

Numutkeun ahli psikolinguistik Jakobson, émang hurup [r] mangrupa hurup pamungkas anu dipiboga ku balita. Urutan pemeroléhan fonologi (élmu dina widang sora hurup), balita mimita bisa ngedalkeun nyaéta dina hurup [b] [p][d] jeung [t] tinimbang [f] jeung [s], sedengkeun vokal munggaran nu dipikabisa nyaéta vokal lébar [a]. Foném likuida [r] jeung [l] tur sora luncuran (glide) [y] jeung [w] mangrupa foném pamungkas dina kaparigelan bahasa.

Ngeunaan hurup [r], William Labov, sarjana kalahiran Rutherford, New Jersey, AS tanggal 4 Desember 1927 ngayakeun panangtaluntikan sosiolinguistik dina téma “New York City Speech”. Di New York, Labov jadi panaluntik munggaran ngademonstrasikeun penemuan widang basa lisan kalayan daria, netélakeun yén variasi lapal huruf [r] di kota New York dibagi dumasar kana kelas sosial di masarakat. Di New York, lapal [r] dikedalkeun kalayan jelas minangka kaum masarakat nu boga ajén (berprestise) mangrupa jalma anu nyakola, sedengkan di Inggris tibalik, lapal [r] anu béntés tur jelas dianggap golongan jalma biasa waé (henteu berprestise].

Hipotesa hubungan ngalarapkeun lapal hurup [r] jeung kelas sosial diuji dina percobaan nalungtik bahasa lisan para asistén toko di tilu toko swalayan anu miboga statusna buda-béda, nyaéta statusna luhur, sedeng, jeung kulawarga biasa. Prosédur dilakukeun ku pananya ngeunaan toko swalayan anu lanté opat ku bahasa Inggris. “Punten, di mana sapatu kaum istri?” Maranéhna ngajawab “fourth floor”. Dina kalimah éta aya dua kajadian anu jadi obyék panalitian nyaéta dina ngalarapkeun hurup [r]. Tina informasi ieu aya 264 sampel anu dikumpulkeun. Hasilna 38 persen tina asistén toko boga status golongan luhur teu bisa ngedalkeun hurup [r] secara jelas, dina status sedeng 49 persén jeung toko biasa hasilna nyongcolang 83 persén. (Dicutat tina terjemahan buku Sociolinguistic : An Introduction karya Peter Trudgill, Aylesbury, Bucks : 1981).

Hurup [r] dina basa Sunda mangrupa konsonan pituin titinggal karuhun. Bahasa Sunda euyeub ku konsonan [r] boh dilarapkeun di hareup, di tengah atawa di tungtung. Coba titenan, konsonan [r] nu disimpen di harep kecap : [r]euma, [r]eumis, [r]abeng, jste; aya ogé konsonan di tengah, siga : kabeu[r]euyan, a[r]euy, ca[r]angka, jste; atawa disimpen ditungtung siga : mute[r], peda[r], cangéhga[r], jste. Dina kamus, konsonan [r] bisa digunakeun pikeun ngabédakeun harti dua kecap anu méh sarupa kawas: [r]aja jeung [l]aja, [r]ami jeung [s]ami, atawa [r]andu jeung [c]andu.

Konsonan [r] pohara gedé mangpaatna pikeun sajumlah kecap lamun taya hurup [r] bakal ngandung harti “cawokah” nu sok dibalibirkeun ku masarakat. Salila ieu hurup [r] geus nyalametkeun kecap : kont[r]ol miboga harti panalingaan, anu mindeng dipaké ku para pajabat utamana widang pamariksaan. Atawa: kecap dikéwé[r] anu boga harti dijiwir sisi samping nu keur dipaké, bari leumpang. Kecap éwér-éwé[r]an anu boga hartina ngarumbay biasa dilarapkeun kana tali mindeng kénéh dipaké nepi ka kiwari. Pon kitu deui, lembur Nangéwé[r] di hiji wewengkon tetep ngadeg nepi ka kiwari, kusabab aya fungsi jeung mangpaat hurup [r]. Lamun taya hurup [r], duka kumaha nasibna. Hapunten, baraya, ah! ***

Mahasiswa program studi bahasa sastra Indonesia/s2,
Universitas Suryakancana Cianjur

Senin, 23 Januari 2012

Mengamati Buah Hati Beroleh Bahasa



13272536351489030944
Uthon, berusia 2 thn: pengalaman lingkungan menstimulus munculnya kosakata barunya

oleh: Dadan Wahyudin

Penguasaan kosakata sangat penting bagi seorang penulis sebagai bekal untuk membuat tulisan.  Dengan penguasaan kosakata yang banyak kita bisa memilih kata (diksi) yang bisa menggelitik, menggoda, menghibur, puitis, menyindir, menyayat atau menghadirkan suasana lara nestapa para pembaca.

Ternyata bahasa diperoleh sejak bayi dilahirkan. Pemerolehan bahasa (language acquisition) berbeda dengan pembelajaran bahasa (language learning).  Pembelajaran bahasa biasanya diperoleh melalui usaha dan sadar melalui proses belajar, maka pemerolehan bahasa cenderung terjadi secara alamiah, secara tidak sadar didapat dari lingkungan keluarganya.

Proses ini terjadi sebenarnya sudah diperoleh bayi sejak kecil.  Sesungguhnya bayi sejak kecil  sudah “disetel’ secara biologis untuk berkomunikasi.  Dalam buku Chaer (Psikolinguistik, 2005: 226-227) digambarkan bahwa sejak bayi sudah menanggapi suara dan gerak-gerik ibunya. Pada usia dua minggu, bayi sudah bisa membedakan wajah ibunya dari orang lain.  Pada usia tiga minggu, “senyum sosial” diberikan bayi  sebagai reaksi sosial terhadap rangsangan dari luar.

Bulan kedua bayi sudah sering “berdekut” (cooing) jika dia dalam keadaan senang, sebab ada yang menemani, mengajak bicara, atau mengajak bermain.  Ibu seyogianya selalu menyesuaikan diri mengajak “dialog” lebih ditingkatkan.  Di usia 12 minggu bayi mulai mengeluarkan suara balasan jika bundanya memberi tanggapan terhadap suaranya.

Tahap berikutnya, bayi mulai memahami “pola-gilir” ci-luk-ba sekaligus mempertajam kemampuan bayi memahami “pola gilir” dalam komunikasi tersebut. Menjelang usia 1 tahun anak mulai memegang kendali dalam interaksi. Ia belajar menyatakan keinginannya, termasuk bisa menyuarakan bunyi aaaa pertanda merasa senang dan eeee sebagai bentuk protes.

bayi 2 tahun
Mula-mula anak belajar kata pertama. Pengucapannya terbatas pada kemampuan artikulasinya.  Pada bayi, ada sejumlah hambatan dalam melisankan beberapa fonem seperti fonem /k/ belum mampu diucapkan, tetapi sudah bisa menyebutkan fonem /t/. Kalimat satu kata biasa disebut holofrasis oleh pakar sering dianggap bukan kalimat, karena maknanya sukar diprediksikan.


[ikan] diucapkan /itan/    [naittuda] —– naik kuda       [tupu-tupu] —- kupu-kupu

Kemudian disusul dengan kalimat dua kata, tiga kata, empat kata dan lima kata. Kali ini mengamati perilaku berbahasa Uthon, buah hati kami, berusia 2 tahun 0 bulan,  dalam 100 tuturan yang direkam kemudian ditranskripsi  dengan  pengantar bahasa Sunda diperoleh kalimat didominasi oleh kalimat satu kata dan dua kata, seperti di bawah ini.

kalimat satu kata
doba
1.6
domba
domba
canes
1.7
sanes
bukan
dipotonan
1.8
dipotongan
dipotong-potong

kalimat dua kata
obin adeun
2.5
mobil ageung
mobil besar
obin polici
2.6
mobil polisi
mobil polisi
teyeta api
2.7
kareta api
kereta api
di uyuh
2.8
di luhur
di atas

kalimat tiga kata
nambut capeda aica
3.1
nambut sapedah aisah
meminjam sepedah aisah
papah nuju naon
3.2
papah nuju naon
papah sedang apa

kalimat empat kata
di tebon aya tating
4.1
di kebon aya cacing
di kebun ada cacing
tica tica di dindin
4.2
cicak-cicak di dinding
cicak-cicak di dinding

Selain mampu menyusun kalimat hingga lima kata, ia telah mampu menyusun struktur kalimat utuh bersubjek dan predikat, seperti: [dede yuyuyumpatan/dede lulumpatan/dede berlari-lari], [dede angkat ta mejid/dede pergi ke mesjid].  

Dilihat dari kategori sintaksisnya, terdapat tuturan: 
(1) kata benda (nomina) berupa [estim payun]— eskrim payung, [tuda] — kuda; 
(2) kata kerja (verba) : [yuyumpatan]—lulumpatan–berlari-lari,  
      [dipotonan]—dipotong-potong;
(3) keterangan (adverbia) seperti: [di uyuh] — di luhur — di atas,  
      [ta tebon]—ka kebon — ke kebun;
(4) kata sifat (adjektiva) seperti: [cae] — sae — bagus; [cotat] —coklat
     adeun —ageung—besar;  
(5) kata bilangan (numeralia), seperti:  [ceueur] –seueur - banyak
     [capuyuh] — sapuluh –sepuluh.

Brown (dalam Owens, 2008) membagi tahap pemerolehan bahasa anak berdasarkan MLU anak menjadi sepuluh tahap, yaitu :

1.     Tahap I MLU (1—1,5)  pada usia 12—22  bulan
2.     Tahap II MLU (1,5—2,0) pada usia 22—27 bulan….dst

Jumlah kosakata diperoleh Uthon (2 tahun) dalam 100 tuturan memiliki  nilai MLU (Mean Length of Utterance ) 1,74 berada pada Tahap II sesuai rentang usianya pada saat diambil data berusia 2 tahun atau 24 bulan.
Semakin tinggi MLU anak maka semakin tinggilah penguasaan berbahasa anak tersebut.***

Jumat, 06 Januari 2012

Menyambangi Desa Karya Mukti Campaka Cianjur




STUDI LAPANGAN mata kuliah Sastra dan Budaya Nusantara Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (S2) Universitas Suryakancana Cianjur kali ini dibagi dua lokasi. Untuk mahasiswa semester satu melakukan kunjungan ke Kampung Naga di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya dan Ciungwanara di Ciamis hari Rabu-Kamis, 4-5 Januari 2012. Adapun semester dua mengambil lokasi di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka kabupaten Cianjur. Kegiatan ini dilaksanakan satu hari sebelum semester satu, hari Selasa-Rabu, 3-4 Januari 2012.
Melewati stasiun legendaris
Perjalanan menuju desa Karyamukti Campaka, meskipun tak jauh dari kampus Suryakancana namun tak kalah mengesankan dan eksotis. Desa cantik dibentengi puluhan bukit dan lembah ini cukup ditempuh 35 km ke arah Sukabumi. Lalu  mengambil arah ke kiri menuju kecamatan Campaka dari kota Cianjur. Bila dihitung dari ibukota propinsi maka jaraknya 95 km dan sekitar 145 km dari ibukota Jakarta.

Hamparan kebun téh hijau menghimbau, berselang pohon sengon milik penduduk membuat perjalanan menyusuri jalan penuh kelokan ini tak terasa lelah. Sesekali tampak aktivitas penduduk di ladang bertanam palawija dan mengolah petak sawah sempit dihimpit deretan dua tebing curam. Juga pemandangan para pemetik teh bercengkrama, sembari menebar senyum optimis mewarnai perjalanan kami.


1325857928450800895
              stasiun legendaris Lampegan, menanti aktivitas lagi (google)
Perjalanan melalui Warungkondang ini akan melewati rel kereta api dengan stasiun legendaris, yaitu Lampegan. Di sini terdapat terowongan Lampegan sepanjang 630 m dibangun tahun 1879-1882. Terowongan ini dilanda erosi sehingga praktis jalur kereta api Sukabumi-Cianjur terhenti di tahun 2001. Ini satu dari lima terowongan kereta api yang cukup eksotis di Jawa Barat setelah terowongan Sasaksaat (Purwakarta), terowongan Hendrik, Wilhelmina, dan Juliana di jalur Banjar-Pangandaran yang juga berhenti beroperasi sejak tahun 1982.

Nama Lampegan sendiri konon berasal saat kereta api dikemudikan tuan bule akan masuk terowongan, penduduk setempat mengingatkan dengan berteriak, “lampe tuan…lampe tuan” atau “lampu agan” (lampu tuan) maksudnya menyalakan lampu sehingga terhindar dari gelap gulita disergap pekatnya lorong terowongan. Namun kata yang familiar didengar penduduk adalah lampegan digunakan hingga kini. Sayangnya, kami tidak mengambil dokumentasi di sini.

Situs Megalit terbesar se-Asia Tenggara 
Desa Karyamukti memiliki luas 1.864.230 ha. Di sebelah utara dengan kecamatan Cibeber, di selatan dengan kecamatan Sukanagara. Adapun di sebelah barat berbatasan dengan desa Cimenteng dan desa Wangun Jaya di sebelah timurnya. Desa memiliki kantor desa di Babakanlapang ini terletak di ketinggian 825-1200 mdpl dengan curah hujan 3333 mm/tahun,


13257656691546774428
Di tangga Balai Desa Karyamukti

Secara administratif, desa Karyamukti memiliki 33 RT, 9 RW  dan 4 Dusun. Karena topografi berbukit-bukit, tak salah nama empat dusun pun bernuansa pegunungan, yaitu Dusun Gunung Mas, Dusun  Gunung Sari, Dusun Gunung Malati dan Dusun Gunung Padang. Nama dusun terakhir kini mulai kesohor di kalangan arkeolog, geologi, budayawan, maupun wisata sejarah karena terdapat situs Megalit yang konon merupakan terbesar di Asia Tenggara.

Situs megalit Gunung Padang terletak 6 km dari Babakanlapang lokasi Balai Desa Karyamukti. Untuk mencapainya, bisa menggunakan kendaraan pribadi. Mobil pribradi  bisa langsung ke pintu gerbang. Akan tetapi bila musim hujan, jalan berbatu menjadi licin. Namun jangan takut,  tempat parkir sebelum gerbang terletak begitu masuk kampung tersedia.

1325858433721338758
Meski  naik 400 anak tangga, peserta nampak ceria
Anda harus melewati batuan andesit hampir 400 anak tangga dengan sudut elevasi cukup curam, namun kini sudah dibuat tangga dari beton yang dibuat melingkar sehingga agak landai. Namun tak urung, ketinggian sekitar 90 meter dari gerbang membuat dada sesak dan melelahkan. Beberapa kali kami beristirahat menahan nafas, sembari memandang kebun téh di sekelilingnya.

Tatkala tiba di puncak, hamparan batu yang konon berusia 1500-2500 tahun silam terhampar berserakan. Batu-batu tersusun menyerupai ruang-ruang. Bahkan ada menyerupai   alat-alat musik Sunda seperti: bonang dan kecapi. Batu-batu itu terhujam kuat.

Gerimis turun tak menghalangi menikmati eksotisme situs ini. Perjalanan melelahkan seakan terbayar sudah oleh kepuasan menikmati panorama di atas bukit ini.  Kabut perlahan turun, membuat kami beringsut untuk turun.

Melihat posisi batu ini mengingatkan kita pada bangunan megalit serupa Stonehenge di Inggris atau kompleks Machu Picchu di Peru berada di puncak bukit tinggi. Menurut Pak Dedi, petugas yang menjaga situs ini, Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan oleh peneliti Belanda: N.J. Krom tahun 1914, namun belum ditindaklanjuti.



13257701702099385384
Kegembiraan di Areal Situs Megalit Gunung Padang

Tatkala ada penebangan kayu di lokasi ini, penduduk melaporkan kepada pemerintah daerah setempat tahun 1979. Gerbang dan bangunan pun dibangun di bekas rumah milik Pak Dedi yang dibeli Pemda. Dari paparannya menyatakan bahwa situs ini kemungkinan  dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad XV, dengan menggunakan batu-batu berusia 1500 tahun. Menurut para ahli, relevansi ini dibuktikan ada guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu, sebagai ciri khas era ini.


13258604541745591807
Bersama Pak Dedi, petugas/kuncen Gn Padang
Namun ada pendapat lain menyatakan bahwa kebudayaan megalit erat kaitannya dengan Kebudayaan Dongson (500 SM) di Vietnam dan Asia Tenggara. Bila mengacu pada pendapat ini, maka situs ini diprediksi telah ada  hampir 2500 tahun silam.
 
Kilau emas di desa Karyamukti
Desa Karyamukti termasuk desa agraris di mana mata pencaharian penduduknya sebagai petani, sebagian lagi menyambi beternak dan bekerja di kebun téh. Wanita dewasa umumnya bekerja sebagai pemetik téh.

Mata pencaharian termasuk satu poin budaya, yang menarik di Karyamukti banyaknya penduduk bermata pencaharian penambang batu emas. Bunyi tumbukan batu dan bangunan pengolah batu emas disebut gulundung atau rental banyak dijumpai di daerah ini. Tua, muda, pria wanita, tampak bekerja memecahkan batu diyakini mengandung emas ini di pelataran rumah masing-masing.


1325858173537545669
Salah seorang peserta serius menggali data dengan sesepuh setempat

Perut bumi desa Karyamukti kaya emas. Untuk mendapatkan batu ini, penduduk menambang dengan cara masuk ke lorong bawah tanah sedalam 70-100 meter ke bawah tanah secara vertikal dan 60-100 m horizontal dan berliku mirip lubang tikus.


Batu ditambang secara manual menggunakan tatah. Sebelumnya, mereka membawa perbekalan logistik dan blower untuk sirkulasi oksigen dan kegerahan selama satu dua hari di dalam tanah. Ada beberapa daerah penambangan emas di desa Karyamukti, baik penambangan umum maupun dikelola perusahaan.

Penduduk dapat pula bekerja dengan perusahaan dengan sistem bagi-hasil batu diperoleh. Batu-batu ini dapat diolah di mesin pengolahan emas baik dengan cara menyewa atau milik sendiri. Sebelumnya batu-batu ini dipecahkan secara manual sebesar batu split, kemudian dimasukan ke mesin rental selama 12 jam bersama wik dan dipijit untuk mendapatkan bijih emas.

Bijih emas awalnya berwarna putih menjadi kuning berkilau setelah dibakar. Lazimnya orang berusaha, adakalanya kandungan emasnya tinggi, kadang sedikit, bahkan ada pula yang “nyabok” (tak ada bijih emas  sedikitpun).

Tradisi dan budaya
Sebagaimana desa-desa di Kabupaten Cianjur, tradisi dan budaya Sunda buhun masih terjaga, meskipun ada pengaruh modernitas dan globalisasi. Dinamika penduduk terutama penambang emas, sebagian berasal dari penduduk luar mewarnai akulturasi budaya dan dialek bahasa.

Peserta studi lapangan mencoba mendapatkan data dengan mendatangi tokoh, sesepuh dan praktisi berkaitan dengan unsur budaya dan sastra yang ada di daerah ini. Termasuk mencoba mencari data  adat ritual berikut "parancah" atau "jangjawokan" (jampe) masih digunakan dalam menyembuhkan orang sakit, bercocok tanam, memanen, membangun rumah, atau hajatan. Namun beberapa “parancah” atau “jangjawokan” sudah diselaraskan dengan kehidupan religius mayoritas muslim penduduknya diganti  shalawat berisi puji dan doa.  Begitu pula tukang sawer, beluk, kuncen, atau paraji yang masih melestarikan teks lisan kidung, tembang, jampe, tak luput menjadi bidikan peserta studi lapangan.  Atau lantunan dilakukan ibu-ibu dalam "marende" bayinya.

1325858780529436067
Prof. Dr. H. Yus Rusyana, memberi evaluasi kegiatan

Peserta studi lapangan berkesempatan mendengarkan paparan tentang  kisah Kerajaan Sunda yang bermula di Jampangmanggu (Cikalong), Silsilah Cikundul, hingga Kerajaan Pajajaran dan tokoh raja-rajanya.  Acara ini bertepatan dengan pengajian rutin diadakan warga setempat di malam harinya.

Esoknya dilanjutkan ke penambangan emas untuk mencari pengayaan data kehidupan dialami penambang baik pahit getir maupun kebahagiaan diperoleh, terutama mendapat hasil muncekil.

Di akhir kegiatan, Peserta studi lapangan mendapat pengayaan materi sastra dan budaya Sunda dari Prof. Dr. H. Yus Rusyana yang sengaja datang ke lokasi sekaligus memberi evaluasi kegiatan. Laporan ini nantinya disusun sebagai bahan pengayaan budaya dan sastra Sunda, khususnya di “wewengkon” Kabupaten Cianjur sebagai salah satu barometer budaya Sunda di tatar Pasundan. *** (Dadan Wahyudin, pimpinan rombongan peserta/koresponden Sduadua unsur)

Senin, 19 Desember 2011

Carpon : Jurig Pesbuk

Ku : Dadan Wahyudin

(dimuat di majalah Isma, Cianjur Edisi 112 Tahun XII 23 Nov-22 Des 2011)

Teu pira ukur dua kecap. Kasigeung ku pamolah kuring. Bener ceuk paribasa  letah mah teu tulangan.  Lisan leuwih nyelekit kana hate batan maut hinis. Alatan status pesbuk Minggu kamari, dumadakan kuring diputuskeun ku Neng Ani.

Aeh,  geuning pesbuk lain lisan, tapi ku tulisan. Bener dawuhan Sayidina Ali bin Abu Tholib, cenah tulisan ge sarua leuwih bahaya tibatan congo pedang. Teu pira ukur dua kecap, geus ngaburantakkeun sumanget hirup kahareupna.

Kakara kaharti ku kuring, geuning maen pesbuk tèh loba mudorotna batan maslahatna.  Alatan pesbuk, loba jalma taya hojah, gawena ngan carindekul nyoro’o hape. Ti isuk jegur nepi ka sore jeput anteng dipepende ku dunia maya anu geus jadi simbol manusa modern tea.  Teu di buruan, di sakola, di mol, atawa  di angkutan kota, malah teu sirikna di dapur,  loba jalma anu sibuk sorangan, malah sakapeung mah katara siga nu owah. Ngomong jeung sura-seuri sorangan, tara ieuh nolih ka batur sagigirna.

Da èta, mangsa baheula mah ari ngobrol tèh ukur di golodog bari nyiar kutu,  mun teu ngabudalkeun bangbaluh hirup minangka curhat paling ngagosip ngomongkeun batur.  Atuh bapa-bapana, bari maen kartu di pos ronda naon deui atuh ari lain ngadurenyomkeun  randa  bengsrat di kampung sabeulah. Sigana èta pasipatan masarakat tèh diulik kalayan geten ku pausahaan pesbuk.  Heueuh, kreatip pisan tah nu nyieun pesbuk.  Ngigelan jalma anu puwadaksina resep ngobrol atawa gibah.  Ukur mencet hape, bisa ngobrol naon waè,  ti ngabahas kasus Gayus Tambunan, gosip artis Anang-Krisdayanti atawa obrolan maen bal di mancanegara.  Malah obrolan pulitik ogè ayeuna mah teu didingdir kelir deui nembrak, teu menak teu cacah bisa ilubiung ngabahas sual pulitik anu haneut, anu baheula cadu dipedar.

 Lamun geus ancrub jadi pesbuker, landian keur komunitas nuboga pesbuk, bobolokot sok poho sagala-gala. Nu rajin sok kabawa males, nu sipatna males beuki komo deui tambah males.  Poho kana pancen gawe, malah sok poho  solat, da kagok jawabna.  Nu watir mah, loba nu mentingkeun meuli pulsa batan meuli beas. Heueuh keur maraban juragan pesbuk nu teu weleh nelegan pulsa. Unggal poe kudu seba pulsa ngarah bisa OL, lamun teu dipulsaan mah juragan pesbuk tèh sok olo-olo alias mogok.   Kapaksa pesbukerna kokotetengan neang waragad pikeun meuli pulsa keur ngadeuheus juragana…

Nyaèta, ti saprak Minggu kamari kuring jadi ceuceub pisan ka nu ngarana pesbuk tèh.  Cua, teu hayang deui OL atawa muka status.  Paduli teuing babaturan kaleungitan ge, nu saacana teu weleh ngaganteng unggal bada Magrib, kukurusukan di jagat maya.  “Jurig pesbuk” dilandina ogè ku kuring ayeuna mah.  Ukur nelegan pulsa, teu kolot teu budak.  Nu untung mah pausahaan pulsa we, jadi beunghar. Pinter maranehna mah, tara angkaribung ngunjal jeung teu beurat mamawa pulsa.

Bebene kuring anu dipikaasih beurang peuting,  Neng Ani  ngejat ninggalkeun kuring alatan pesbuk. Teu pira ukur nulis dua kecap. Dua kecap anu meunggaskeun duriat kuring ka manehna.   Neng Ani anu teu weleh ngancik dina jero hate, geus paheut rek sapapait samamanis, nyeri hate ku eusi status kuring dina pesbuk.

Padahal sumpahna ge lain, lain keur anjeun, Neng An!  Di pesbuk mah ocon atawa heureuy tèh biasa, tong serius teuing.  Kuring atawa sohib sok rajeun nempel poto atawa  tulisan, ogè nyieun status nu mahiwal tèh, ngarah panasaran sohib-sohib sejen.  Lamun meunang komentar leuwih ti sapuluh, hartina  status pesbuk kuring laku, bakal rame, kana rating bakal naek, kuring jadi popular.   Èta matak reueus pikeun pesbuker tèh, da ari honor kikituan teu aya eleh ku barakatak Mangle.

Harita mah heureuy kuring neunggeul pisan hate Neng Ani anu asa dileleceh harkat jeung martabat dirina jeung kulawargana. Sabalikna, pikeun kuring oge lir guludug dina panas poe ereng-erengan, teu hujan teu angin, Neng Ani ujug-ujug males status kacida kuciwana ku polah kuring.

Lain ku nanaon, Neng Ani estuning mojang aktip tur pinter.  Keur geulis rupa, parigel kana sagala widang.   Aktip  di Karang Taruna di lemburna, anu euyeub ku prestasi, saprak dipupuhuan ku Neng Ani.  Dumadakan sohor sa-Kabupaten mah.  Pangpangna sohor tèh, kapan sukses dina ngokolakeun program pamarentah kabupaten dina miara lingkungan “go green” tea.  Karang Tarunana boga ajen dina  miara kembang hias, ti ngabibitkeun, nyieun pupuk organik nepi ka sukses masarkeuna.  Teu hemeng, loba instansi pamarentah jeung organisasi pamuda sejen ti luar ngahaja studi banding ka Karang Taruna nu dipingpin Neng Ani.

  Ceuk batur kuring, bagja temen kuring meunangkeun Neng Ani mah.     Neng Ani mah wanoja singer, supel, tur darehdeh. Tangginas dina gawe ogè leubeut ku pangarti. Èta dina biantara ge, meni capetang pertentang tèh nyaan abong manukna dina miara kembang tèh, ma’lum kapan masih keneh tolab elmu di Fakultas Pertanian.  Atuh dina ngajak masarakat, pinter pisan ngirutna, kalayan sukarela masarakat milu aktip ngarojong program ieu milu miara kembang hias di buruan sewang-sewangan. Munasabah atuh komplek parumahan  tèh asri jeung resik.

Ayeuna karasa kosong hate tèh. Ngangres, tunggara, balangsak. Sok nineung, biasana maju peuting tèh  haneuteun najan ukur ceting  dina pesbuk.  Ayeuna mah estuning jempling rehe. Ukur lalangit kamar kos nu pulas bodas dipapaes ku sakadang cakcak anu ngadodoho reungit pikeun mangsana. Pangacian nyawang mangsa endah jeung Neng Ani, minangka adi angkatan di kampus beda fakultas.  Kuring rajeun mantuan tugas-tugas mahasiswa anyar dina mangsa ospek, nu ahirna jadi cukang lantaran kacangreud ati meungkeut katresna.  

Geus saminggu, kuring  teu muka pesbuk deui, baluas keneh ku komentar Neng Ani anu mangrupa komentar panungtungan. Saeutik mantak nyentug, majar kuring tèh “sakola tapi teu nyakola” anu dipungkas ku komentar nutup panto hatena pikeun kuring. Senjata makan tuan siah, kitu ceuk si Omen tea mun apaleun mah.  Nu matak hirup mah kudu asak  timbangan ceuk kolot baheula mah.

Dunia selebriti dina layar kaca nu sok ngagosip bintang pilem atawa pajabat milu mangaruhan tabeat pamirsana,  kaasup kuring.  Paduli teuing nu jadi objekna nu diadurenyomkeun, nu penting mah rating beritana naek, nu masang iklan loba.  Eta mah tipi, ari ieu mah status pesbuk.  Jigana paduli teuing nu jadi bukur caturna mah, nu penting  sohib sugema, aing gumbira titik. Èta pisan nu karandapan ku kuring.

Èta atuh pirajeuneun nempelkeun poto doger monyet nu keur euyeub di unggal parapatan lampu merah dina status pesbuk kuring, teu pira ukur ditulisan dua kecap : “Sarimin Berkacamata” anu diigelan ku sohib-sohib kuring ku   komentar-komentarna matak beureum ceuli, jauh tina tata etika, arasal eungab, ma’lum barudak atah didikan.

Horeng Pa Sar, sok disungkeman ari nganjang ka Neng Ani, sugan tèh Pa Basar, ari horeng tèh geuningan Mang Sarimin, Bapana Neng Ani. Hampura, Neng!

Gara-gara jurig pesbuk. Halik siah nyingkah.. … ****

Pasirgede - Kampus Suryakancana Cianjur

Kamis, 15 Desember 2011

Gaya Bahasa

1.      Klimaks
Adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat.
Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
2.      Antiklimaks
Adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun.
Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya
3.      Paralelisme
Adalah gaya bahasa penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris  atau kalimat. Contoh : Jika kamu minta, aku akan datang
4.      Antitesis
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya.
Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, semuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa.
Reptisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai
5.      Epizeuksis
Adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh : Kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja untuk mengajar semua ketinggalan kita.
6.      Tautotes
Ada;aj repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi.
Contoh : kau menunding aku, aku menunding kau, kau dan aku menjadi seteru
7.      Anafora
Adalah repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap garis.
Contoh : Apatah tak bersalin rupa, apatah boga sepanjang masa
8.      Epistrofora
Adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir kalimat berurutan Contoh : Bumi yang kau diami, laut yang kaulayari adalah puisi,
Udara yang kau hirupi, ari yang kau teguki adalah puisi
9.      Simploke
Adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut.
Contoh : Kau bilang aku ini egois, aku bilang terserah aku. Kau bilang aku ini judes, aku bilang terserah aku.
10.  Mesodiplosis
Adalah repetisi di tengah-tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan.
Contoh : Para pembesar jangan mencuri bensin. Para gadis jangan mencari perawannya sendiri.
11.  Epanalepsis
Adalah pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama.
Contoh : Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
12.  Anadiplosis
Adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa berikutnya.
Contoh : Dalam baju ada aku, dalam aku ada hati. Dalam hati : ah tak apa jua yang ada.

13.  Aliterasi
Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama.
Contoh : Keras-keras kena air lembut juga
14.  Asonansi
Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama.
Contoh : Ini luka penuh luka siapa yang punya  
15.  Anastrof atau Inversi
Adalah gaya bahasa yang dalam pengungkapannya predikat kalimat mendahului subejeknya karena lebih diutamakan.
Contoh : Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat peranginya.
16.  Apofasis atau Preterisio
Adalah gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal.
Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara
17.  Apostrof
Adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir.
Contoh : Hai kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air bercinta ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kau perjuangkan
18.  Asindeton
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung agar perhatian pembaca beralih pada hal yang disebutkan.
Contoh : Dan kesesakan kesedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.
19.  Polisindeton
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung.
Contoh : Kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang merontokkan bulu-bulunya?
20.  Kiasmus
Adalah gaya bahasa  yang terdiri dari dua bagian, yang bersifat berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa dan klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya.
Contoh : Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.
21.  Elipsis
Adalah gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca.
Contoh : Risalah derita yang menimpa ini.


22.  Eufimisme
Adalah gaya bahasa  penghalus untuk menjaga kesopanan atau menghindari timbulnya kesan yang tidak menyenangkan.
Contoh : Anak ibu lamban menerima pelajaran
23.  Litotes
Adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri
Contoh : Mampirlah ke gubukku!
24.  Histeron Proteron
adalah gaya bahasa yang merupakan kebailikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.
Contoh : Bila ia sudah berhasil mendaki karang terjal itu, sampailah ia di tepi pantai yang luas dengan pasir putihnya
25.  Pleonasme
Adalah gaya bahasa yang memberikan keterangan dengan kata-kata yang maknanya sudah tercakup dalam kata yang diterangkan atau mendahului.
Contoh : Darah merah membasahi baju dan tubuhnya
26.  Tautologi
Adalah gaya bahasa yang mengulang sebuah kata dalam kalimat atau mempergunakan kata-kata yang diterangkan atau mendahului.
Contoh : Kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan
27.  Parifrasis
Adalah gaya bahasa yang menggantikan sebuah kata dengan frase atau serangkaian kata yang sama artinya.
Contoh : Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu
28.  Prolepsis atau Antisipasi
Adalah gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi.
Contoh : Keua orang tua itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu.
29.  Erotesis atau Pertanyaan Retoris
Adalah pernyataan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban.
Contoh : inikah yang kau namai bekerja?
30.  Silepsis dan Zeugma
Adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama.
Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
31.  Koreksio atau Epanortosis
Adalah gaya bahasa yang mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya.
Contoh : Silakan pulang saudara-saudara, eh maaf, silakan makan.
32.  Hiperbola
Adalah gaya bahasa yang memberikan pernyataan yang berlebih-lebihan.
Contoh : Kita berjuang sampai titik darah penghabisan
33.  Paradoks
Adalah gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda.
Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil.
34.  Oksimoron
adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama.
Contoh : Keramah-tamahan yang bengis
35.  Asosiasi atau Simile
Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya.
Contoh : Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam
36.  Metafora
Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang mempunyai sifat sama.
Contoh : Jantung hatinya hilang tiada berita
37.  Alegori
adalah gaya bahasa yang membandingkan kehidupan manusia dengan alam.
Contoh : Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman.
38.  Parabel
Adalah gaya bahasa parabel yang terkandung dalam seluruh karangan dengan secara halus tersimpul dalam karangan itu pedoman hidup, falsafah hidup yang harus ditimba di dalamnya.
Contoh : Cerita Ramayana melukiskan maksud bahwa yang benar tetap benar
39.  Personifikasi
Adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup.
Contoh : Hujan itu menari-nari di atas genting
40.  Alusi
Adalah gaya bahasa yang menghubungkan sesuatu dengan orang, tempat atau peristiwa.
Contoh : Pkartini kecil itu turut memperjuangkan haknya
41.  Eponim
Adalah gaya dimana seseorang namanya begitu sering dihubungakan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan suatu sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.
Contoh : Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.
42.  Epitet
Adalah gaya bahasa yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal.
Contoh : Lonceng pagi untuk ayam jantan.
43.  Sinekdoke
-          Pars Pro Tato
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagianhal untuk menyatakan keseluruhan. Contoh : Saya belum melihat batang hidungnya
-          Totem Pro Parte
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan seluruh hal untuk menyatakan sebagian. Contoh : Thailand memboyong piala kemerdekaan setelah menggulung PSSi Harimau

44.  Metonimia
Adalah gaya bahasa yang menggunakan nama ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Ia menggunakan Jupiter jika pergi ke sekolah
45.  Antonomasia
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sifat atau ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
46.  Hipalase
Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : ia masih menuntut almarhum maskawin dari Kiki puterinya (maksudnya menuntut maskawin dari almarhum)
47.  Ironi
Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : Manis sekali kopi ini, gula mahal ya?
48.  Sinisme
adalah gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari ironi atau sindiran tajam
Contoh : Harum bener baumu pagi ini
49.  Sarkasme
Adalah gaya bahasa yang paling kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan.
Contoh : Mampuspun aku tak peduli, diberi nasihat aku tak peduli, diberi nasihat masuk ketelinga
50.  Satire
Adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu.
Contoh : Ya, Ampun! Soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya!
51.  Inuendo
Adalah gaya bahasa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya
52.  Antifrasis
Adalah gaya bahsa ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna sebaliknya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya.
Contoh : Engkau memang orang yang mulia dan terhormat
53.  Pun atau Paronomasia
Adalah kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi.
Contoh : Tanggal satu gigi saya tinggal satu
54.  Simbolik
Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang.
Contoh : Keduanya hanya cinta monyet.
55.  Tropen
Adalah gaya bahasa yang menggunakan kiasan dengan kata atau istilah lain terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang.
Contoh : Untuk menghilangkan keruwetan pikirannya, ia menyelam diri di antara botol minuman.
56.  Alusio
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pribahasa atau ungkapan.
Contoh : Apakah peristiwa Turang Jaya itu akan terulang lagi?

57.  Interupsi
adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat.
Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain.
58.  Eksklmasio
Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru atau tiruan bunyi.
Contoh : Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil.
59.  Enumerasio
Adalah beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas.
Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhempus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. Itulah keindahan sejati.
60.  Kontradiksio Interminis
Adalah gaya bahasa yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah dikemukakan sebelumnya.
Contoh : semuanya telah diundang, kecuali Sinta.
61.  Anakronisme
Adalah gaya bahasa yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian uraian dalam karya sastra dalam sejarah, sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu.
Contoh : dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam belum ada)
62.  Okupasi
Adalah gaya bahasa yang menyatakan bantahan atau keberatan terhadap sesuatu yang oleh orang banyak dianggap benar.
Contoh : Minuman keras dapat merusak dapat merusak jaringan sistem syaraf, tetapi banyak anak yang mengkonsumsinya.
63.  Resentia
Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu yang tidak mengatakan tegas pada bagian tertentu dari kalimat yang dihilangkan.
Contoh : “Apakah ibu mau….?”

Sumber : mynoble.files.wordpress.com