BERBAKTI DAN MENGABDI

BERBAKTI DAN MENGABDI

Senin, 23 Januari 2012

Mengamati Buah Hati Beroleh Bahasa



13272536351489030944
Uthon, berusia 2 thn: pengalaman lingkungan menstimulus munculnya kosakata barunya

oleh: Dadan Wahyudin

Penguasaan kosakata sangat penting bagi seorang penulis sebagai bekal untuk membuat tulisan.  Dengan penguasaan kosakata yang banyak kita bisa memilih kata (diksi) yang bisa menggelitik, menggoda, menghibur, puitis, menyindir, menyayat atau menghadirkan suasana lara nestapa para pembaca.

Ternyata bahasa diperoleh sejak bayi dilahirkan. Pemerolehan bahasa (language acquisition) berbeda dengan pembelajaran bahasa (language learning).  Pembelajaran bahasa biasanya diperoleh melalui usaha dan sadar melalui proses belajar, maka pemerolehan bahasa cenderung terjadi secara alamiah, secara tidak sadar didapat dari lingkungan keluarganya.

Proses ini terjadi sebenarnya sudah diperoleh bayi sejak kecil.  Sesungguhnya bayi sejak kecil  sudah “disetel’ secara biologis untuk berkomunikasi.  Dalam buku Chaer (Psikolinguistik, 2005: 226-227) digambarkan bahwa sejak bayi sudah menanggapi suara dan gerak-gerik ibunya. Pada usia dua minggu, bayi sudah bisa membedakan wajah ibunya dari orang lain.  Pada usia tiga minggu, “senyum sosial” diberikan bayi  sebagai reaksi sosial terhadap rangsangan dari luar.

Bulan kedua bayi sudah sering “berdekut” (cooing) jika dia dalam keadaan senang, sebab ada yang menemani, mengajak bicara, atau mengajak bermain.  Ibu seyogianya selalu menyesuaikan diri mengajak “dialog” lebih ditingkatkan.  Di usia 12 minggu bayi mulai mengeluarkan suara balasan jika bundanya memberi tanggapan terhadap suaranya.

Tahap berikutnya, bayi mulai memahami “pola-gilir” ci-luk-ba sekaligus mempertajam kemampuan bayi memahami “pola gilir” dalam komunikasi tersebut. Menjelang usia 1 tahun anak mulai memegang kendali dalam interaksi. Ia belajar menyatakan keinginannya, termasuk bisa menyuarakan bunyi aaaa pertanda merasa senang dan eeee sebagai bentuk protes.

bayi 2 tahun
Mula-mula anak belajar kata pertama. Pengucapannya terbatas pada kemampuan artikulasinya.  Pada bayi, ada sejumlah hambatan dalam melisankan beberapa fonem seperti fonem /k/ belum mampu diucapkan, tetapi sudah bisa menyebutkan fonem /t/. Kalimat satu kata biasa disebut holofrasis oleh pakar sering dianggap bukan kalimat, karena maknanya sukar diprediksikan.


[ikan] diucapkan /itan/    [naittuda] —– naik kuda       [tupu-tupu] —- kupu-kupu

Kemudian disusul dengan kalimat dua kata, tiga kata, empat kata dan lima kata. Kali ini mengamati perilaku berbahasa Uthon, buah hati kami, berusia 2 tahun 0 bulan,  dalam 100 tuturan yang direkam kemudian ditranskripsi  dengan  pengantar bahasa Sunda diperoleh kalimat didominasi oleh kalimat satu kata dan dua kata, seperti di bawah ini.

kalimat satu kata
doba
1.6
domba
domba
canes
1.7
sanes
bukan
dipotonan
1.8
dipotongan
dipotong-potong

kalimat dua kata
obin adeun
2.5
mobil ageung
mobil besar
obin polici
2.6
mobil polisi
mobil polisi
teyeta api
2.7
kareta api
kereta api
di uyuh
2.8
di luhur
di atas

kalimat tiga kata
nambut capeda aica
3.1
nambut sapedah aisah
meminjam sepedah aisah
papah nuju naon
3.2
papah nuju naon
papah sedang apa

kalimat empat kata
di tebon aya tating
4.1
di kebon aya cacing
di kebun ada cacing
tica tica di dindin
4.2
cicak-cicak di dinding
cicak-cicak di dinding

Selain mampu menyusun kalimat hingga lima kata, ia telah mampu menyusun struktur kalimat utuh bersubjek dan predikat, seperti: [dede yuyuyumpatan/dede lulumpatan/dede berlari-lari], [dede angkat ta mejid/dede pergi ke mesjid].  

Dilihat dari kategori sintaksisnya, terdapat tuturan: 
(1) kata benda (nomina) berupa [estim payun]— eskrim payung, [tuda] — kuda; 
(2) kata kerja (verba) : [yuyumpatan]—lulumpatan–berlari-lari,  
      [dipotonan]—dipotong-potong;
(3) keterangan (adverbia) seperti: [di uyuh] — di luhur — di atas,  
      [ta tebon]—ka kebon — ke kebun;
(4) kata sifat (adjektiva) seperti: [cae] — sae — bagus; [cotat] —coklat
     adeun —ageung—besar;  
(5) kata bilangan (numeralia), seperti:  [ceueur] –seueur - banyak
     [capuyuh] — sapuluh –sepuluh.

Brown (dalam Owens, 2008) membagi tahap pemerolehan bahasa anak berdasarkan MLU anak menjadi sepuluh tahap, yaitu :

1.     Tahap I MLU (1—1,5)  pada usia 12—22  bulan
2.     Tahap II MLU (1,5—2,0) pada usia 22—27 bulan….dst

Jumlah kosakata diperoleh Uthon (2 tahun) dalam 100 tuturan memiliki  nilai MLU (Mean Length of Utterance ) 1,74 berada pada Tahap II sesuai rentang usianya pada saat diambil data berusia 2 tahun atau 24 bulan.
Semakin tinggi MLU anak maka semakin tinggilah penguasaan berbahasa anak tersebut.***

Jumat, 06 Januari 2012

Menyambangi Desa Karya Mukti Campaka Cianjur




STUDI LAPANGAN mata kuliah Sastra dan Budaya Nusantara Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (S2) Universitas Suryakancana Cianjur kali ini dibagi dua lokasi. Untuk mahasiswa semester satu melakukan kunjungan ke Kampung Naga di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya dan Ciungwanara di Ciamis hari Rabu-Kamis, 4-5 Januari 2012. Adapun semester dua mengambil lokasi di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka kabupaten Cianjur. Kegiatan ini dilaksanakan satu hari sebelum semester satu, hari Selasa-Rabu, 3-4 Januari 2012.
Melewati stasiun legendaris
Perjalanan menuju desa Karyamukti Campaka, meskipun tak jauh dari kampus Suryakancana namun tak kalah mengesankan dan eksotis. Desa cantik dibentengi puluhan bukit dan lembah ini cukup ditempuh 35 km ke arah Sukabumi. Lalu  mengambil arah ke kiri menuju kecamatan Campaka dari kota Cianjur. Bila dihitung dari ibukota propinsi maka jaraknya 95 km dan sekitar 145 km dari ibukota Jakarta.

Hamparan kebun téh hijau menghimbau, berselang pohon sengon milik penduduk membuat perjalanan menyusuri jalan penuh kelokan ini tak terasa lelah. Sesekali tampak aktivitas penduduk di ladang bertanam palawija dan mengolah petak sawah sempit dihimpit deretan dua tebing curam. Juga pemandangan para pemetik teh bercengkrama, sembari menebar senyum optimis mewarnai perjalanan kami.


1325857928450800895
              stasiun legendaris Lampegan, menanti aktivitas lagi (google)
Perjalanan melalui Warungkondang ini akan melewati rel kereta api dengan stasiun legendaris, yaitu Lampegan. Di sini terdapat terowongan Lampegan sepanjang 630 m dibangun tahun 1879-1882. Terowongan ini dilanda erosi sehingga praktis jalur kereta api Sukabumi-Cianjur terhenti di tahun 2001. Ini satu dari lima terowongan kereta api yang cukup eksotis di Jawa Barat setelah terowongan Sasaksaat (Purwakarta), terowongan Hendrik, Wilhelmina, dan Juliana di jalur Banjar-Pangandaran yang juga berhenti beroperasi sejak tahun 1982.

Nama Lampegan sendiri konon berasal saat kereta api dikemudikan tuan bule akan masuk terowongan, penduduk setempat mengingatkan dengan berteriak, “lampe tuan…lampe tuan” atau “lampu agan” (lampu tuan) maksudnya menyalakan lampu sehingga terhindar dari gelap gulita disergap pekatnya lorong terowongan. Namun kata yang familiar didengar penduduk adalah lampegan digunakan hingga kini. Sayangnya, kami tidak mengambil dokumentasi di sini.

Situs Megalit terbesar se-Asia Tenggara 
Desa Karyamukti memiliki luas 1.864.230 ha. Di sebelah utara dengan kecamatan Cibeber, di selatan dengan kecamatan Sukanagara. Adapun di sebelah barat berbatasan dengan desa Cimenteng dan desa Wangun Jaya di sebelah timurnya. Desa memiliki kantor desa di Babakanlapang ini terletak di ketinggian 825-1200 mdpl dengan curah hujan 3333 mm/tahun,


13257656691546774428
Di tangga Balai Desa Karyamukti

Secara administratif, desa Karyamukti memiliki 33 RT, 9 RW  dan 4 Dusun. Karena topografi berbukit-bukit, tak salah nama empat dusun pun bernuansa pegunungan, yaitu Dusun Gunung Mas, Dusun  Gunung Sari, Dusun Gunung Malati dan Dusun Gunung Padang. Nama dusun terakhir kini mulai kesohor di kalangan arkeolog, geologi, budayawan, maupun wisata sejarah karena terdapat situs Megalit yang konon merupakan terbesar di Asia Tenggara.

Situs megalit Gunung Padang terletak 6 km dari Babakanlapang lokasi Balai Desa Karyamukti. Untuk mencapainya, bisa menggunakan kendaraan pribadi. Mobil pribradi  bisa langsung ke pintu gerbang. Akan tetapi bila musim hujan, jalan berbatu menjadi licin. Namun jangan takut,  tempat parkir sebelum gerbang terletak begitu masuk kampung tersedia.

1325858433721338758
Meski  naik 400 anak tangga, peserta nampak ceria
Anda harus melewati batuan andesit hampir 400 anak tangga dengan sudut elevasi cukup curam, namun kini sudah dibuat tangga dari beton yang dibuat melingkar sehingga agak landai. Namun tak urung, ketinggian sekitar 90 meter dari gerbang membuat dada sesak dan melelahkan. Beberapa kali kami beristirahat menahan nafas, sembari memandang kebun téh di sekelilingnya.

Tatkala tiba di puncak, hamparan batu yang konon berusia 1500-2500 tahun silam terhampar berserakan. Batu-batu tersusun menyerupai ruang-ruang. Bahkan ada menyerupai   alat-alat musik Sunda seperti: bonang dan kecapi. Batu-batu itu terhujam kuat.

Gerimis turun tak menghalangi menikmati eksotisme situs ini. Perjalanan melelahkan seakan terbayar sudah oleh kepuasan menikmati panorama di atas bukit ini.  Kabut perlahan turun, membuat kami beringsut untuk turun.

Melihat posisi batu ini mengingatkan kita pada bangunan megalit serupa Stonehenge di Inggris atau kompleks Machu Picchu di Peru berada di puncak bukit tinggi. Menurut Pak Dedi, petugas yang menjaga situs ini, Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan oleh peneliti Belanda: N.J. Krom tahun 1914, namun belum ditindaklanjuti.



13257701702099385384
Kegembiraan di Areal Situs Megalit Gunung Padang

Tatkala ada penebangan kayu di lokasi ini, penduduk melaporkan kepada pemerintah daerah setempat tahun 1979. Gerbang dan bangunan pun dibangun di bekas rumah milik Pak Dedi yang dibeli Pemda. Dari paparannya menyatakan bahwa situs ini kemungkinan  dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad XV, dengan menggunakan batu-batu berusia 1500 tahun. Menurut para ahli, relevansi ini dibuktikan ada guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu, sebagai ciri khas era ini.


13258604541745591807
Bersama Pak Dedi, petugas/kuncen Gn Padang
Namun ada pendapat lain menyatakan bahwa kebudayaan megalit erat kaitannya dengan Kebudayaan Dongson (500 SM) di Vietnam dan Asia Tenggara. Bila mengacu pada pendapat ini, maka situs ini diprediksi telah ada  hampir 2500 tahun silam.
 
Kilau emas di desa Karyamukti
Desa Karyamukti termasuk desa agraris di mana mata pencaharian penduduknya sebagai petani, sebagian lagi menyambi beternak dan bekerja di kebun téh. Wanita dewasa umumnya bekerja sebagai pemetik téh.

Mata pencaharian termasuk satu poin budaya, yang menarik di Karyamukti banyaknya penduduk bermata pencaharian penambang batu emas. Bunyi tumbukan batu dan bangunan pengolah batu emas disebut gulundung atau rental banyak dijumpai di daerah ini. Tua, muda, pria wanita, tampak bekerja memecahkan batu diyakini mengandung emas ini di pelataran rumah masing-masing.


1325858173537545669
Salah seorang peserta serius menggali data dengan sesepuh setempat

Perut bumi desa Karyamukti kaya emas. Untuk mendapatkan batu ini, penduduk menambang dengan cara masuk ke lorong bawah tanah sedalam 70-100 meter ke bawah tanah secara vertikal dan 60-100 m horizontal dan berliku mirip lubang tikus.


Batu ditambang secara manual menggunakan tatah. Sebelumnya, mereka membawa perbekalan logistik dan blower untuk sirkulasi oksigen dan kegerahan selama satu dua hari di dalam tanah. Ada beberapa daerah penambangan emas di desa Karyamukti, baik penambangan umum maupun dikelola perusahaan.

Penduduk dapat pula bekerja dengan perusahaan dengan sistem bagi-hasil batu diperoleh. Batu-batu ini dapat diolah di mesin pengolahan emas baik dengan cara menyewa atau milik sendiri. Sebelumnya batu-batu ini dipecahkan secara manual sebesar batu split, kemudian dimasukan ke mesin rental selama 12 jam bersama wik dan dipijit untuk mendapatkan bijih emas.

Bijih emas awalnya berwarna putih menjadi kuning berkilau setelah dibakar. Lazimnya orang berusaha, adakalanya kandungan emasnya tinggi, kadang sedikit, bahkan ada pula yang “nyabok” (tak ada bijih emas  sedikitpun).

Tradisi dan budaya
Sebagaimana desa-desa di Kabupaten Cianjur, tradisi dan budaya Sunda buhun masih terjaga, meskipun ada pengaruh modernitas dan globalisasi. Dinamika penduduk terutama penambang emas, sebagian berasal dari penduduk luar mewarnai akulturasi budaya dan dialek bahasa.

Peserta studi lapangan mencoba mendapatkan data dengan mendatangi tokoh, sesepuh dan praktisi berkaitan dengan unsur budaya dan sastra yang ada di daerah ini. Termasuk mencoba mencari data  adat ritual berikut "parancah" atau "jangjawokan" (jampe) masih digunakan dalam menyembuhkan orang sakit, bercocok tanam, memanen, membangun rumah, atau hajatan. Namun beberapa “parancah” atau “jangjawokan” sudah diselaraskan dengan kehidupan religius mayoritas muslim penduduknya diganti  shalawat berisi puji dan doa.  Begitu pula tukang sawer, beluk, kuncen, atau paraji yang masih melestarikan teks lisan kidung, tembang, jampe, tak luput menjadi bidikan peserta studi lapangan.  Atau lantunan dilakukan ibu-ibu dalam "marende" bayinya.

1325858780529436067
Prof. Dr. H. Yus Rusyana, memberi evaluasi kegiatan

Peserta studi lapangan berkesempatan mendengarkan paparan tentang  kisah Kerajaan Sunda yang bermula di Jampangmanggu (Cikalong), Silsilah Cikundul, hingga Kerajaan Pajajaran dan tokoh raja-rajanya.  Acara ini bertepatan dengan pengajian rutin diadakan warga setempat di malam harinya.

Esoknya dilanjutkan ke penambangan emas untuk mencari pengayaan data kehidupan dialami penambang baik pahit getir maupun kebahagiaan diperoleh, terutama mendapat hasil muncekil.

Di akhir kegiatan, Peserta studi lapangan mendapat pengayaan materi sastra dan budaya Sunda dari Prof. Dr. H. Yus Rusyana yang sengaja datang ke lokasi sekaligus memberi evaluasi kegiatan. Laporan ini nantinya disusun sebagai bahan pengayaan budaya dan sastra Sunda, khususnya di “wewengkon” Kabupaten Cianjur sebagai salah satu barometer budaya Sunda di tatar Pasundan. *** (Dadan Wahyudin, pimpinan rombongan peserta/koresponden Sduadua unsur)

Senin, 19 Desember 2011

Carpon : Jurig Pesbuk

Ku : Dadan Wahyudin

(dimuat di majalah Isma, Cianjur Edisi 112 Tahun XII 23 Nov-22 Des 2011)

Teu pira ukur dua kecap. Kasigeung ku pamolah kuring. Bener ceuk paribasa  letah mah teu tulangan.  Lisan leuwih nyelekit kana hate batan maut hinis. Alatan status pesbuk Minggu kamari, dumadakan kuring diputuskeun ku Neng Ani.

Aeh,  geuning pesbuk lain lisan, tapi ku tulisan. Bener dawuhan Sayidina Ali bin Abu Tholib, cenah tulisan ge sarua leuwih bahaya tibatan congo pedang. Teu pira ukur dua kecap, geus ngaburantakkeun sumanget hirup kahareupna.

Kakara kaharti ku kuring, geuning maen pesbuk tèh loba mudorotna batan maslahatna.  Alatan pesbuk, loba jalma taya hojah, gawena ngan carindekul nyoro’o hape. Ti isuk jegur nepi ka sore jeput anteng dipepende ku dunia maya anu geus jadi simbol manusa modern tea.  Teu di buruan, di sakola, di mol, atawa  di angkutan kota, malah teu sirikna di dapur,  loba jalma anu sibuk sorangan, malah sakapeung mah katara siga nu owah. Ngomong jeung sura-seuri sorangan, tara ieuh nolih ka batur sagigirna.

Da èta, mangsa baheula mah ari ngobrol tèh ukur di golodog bari nyiar kutu,  mun teu ngabudalkeun bangbaluh hirup minangka curhat paling ngagosip ngomongkeun batur.  Atuh bapa-bapana, bari maen kartu di pos ronda naon deui atuh ari lain ngadurenyomkeun  randa  bengsrat di kampung sabeulah. Sigana èta pasipatan masarakat tèh diulik kalayan geten ku pausahaan pesbuk.  Heueuh, kreatip pisan tah nu nyieun pesbuk.  Ngigelan jalma anu puwadaksina resep ngobrol atawa gibah.  Ukur mencet hape, bisa ngobrol naon waè,  ti ngabahas kasus Gayus Tambunan, gosip artis Anang-Krisdayanti atawa obrolan maen bal di mancanegara.  Malah obrolan pulitik ogè ayeuna mah teu didingdir kelir deui nembrak, teu menak teu cacah bisa ilubiung ngabahas sual pulitik anu haneut, anu baheula cadu dipedar.

 Lamun geus ancrub jadi pesbuker, landian keur komunitas nuboga pesbuk, bobolokot sok poho sagala-gala. Nu rajin sok kabawa males, nu sipatna males beuki komo deui tambah males.  Poho kana pancen gawe, malah sok poho  solat, da kagok jawabna.  Nu watir mah, loba nu mentingkeun meuli pulsa batan meuli beas. Heueuh keur maraban juragan pesbuk nu teu weleh nelegan pulsa. Unggal poe kudu seba pulsa ngarah bisa OL, lamun teu dipulsaan mah juragan pesbuk tèh sok olo-olo alias mogok.   Kapaksa pesbukerna kokotetengan neang waragad pikeun meuli pulsa keur ngadeuheus juragana…

Nyaèta, ti saprak Minggu kamari kuring jadi ceuceub pisan ka nu ngarana pesbuk tèh.  Cua, teu hayang deui OL atawa muka status.  Paduli teuing babaturan kaleungitan ge, nu saacana teu weleh ngaganteng unggal bada Magrib, kukurusukan di jagat maya.  “Jurig pesbuk” dilandina ogè ku kuring ayeuna mah.  Ukur nelegan pulsa, teu kolot teu budak.  Nu untung mah pausahaan pulsa we, jadi beunghar. Pinter maranehna mah, tara angkaribung ngunjal jeung teu beurat mamawa pulsa.

Bebene kuring anu dipikaasih beurang peuting,  Neng Ani  ngejat ninggalkeun kuring alatan pesbuk. Teu pira ukur nulis dua kecap. Dua kecap anu meunggaskeun duriat kuring ka manehna.   Neng Ani anu teu weleh ngancik dina jero hate, geus paheut rek sapapait samamanis, nyeri hate ku eusi status kuring dina pesbuk.

Padahal sumpahna ge lain, lain keur anjeun, Neng An!  Di pesbuk mah ocon atawa heureuy tèh biasa, tong serius teuing.  Kuring atawa sohib sok rajeun nempel poto atawa  tulisan, ogè nyieun status nu mahiwal tèh, ngarah panasaran sohib-sohib sejen.  Lamun meunang komentar leuwih ti sapuluh, hartina  status pesbuk kuring laku, bakal rame, kana rating bakal naek, kuring jadi popular.   Èta matak reueus pikeun pesbuker tèh, da ari honor kikituan teu aya eleh ku barakatak Mangle.

Harita mah heureuy kuring neunggeul pisan hate Neng Ani anu asa dileleceh harkat jeung martabat dirina jeung kulawargana. Sabalikna, pikeun kuring oge lir guludug dina panas poe ereng-erengan, teu hujan teu angin, Neng Ani ujug-ujug males status kacida kuciwana ku polah kuring.

Lain ku nanaon, Neng Ani estuning mojang aktip tur pinter.  Keur geulis rupa, parigel kana sagala widang.   Aktip  di Karang Taruna di lemburna, anu euyeub ku prestasi, saprak dipupuhuan ku Neng Ani.  Dumadakan sohor sa-Kabupaten mah.  Pangpangna sohor tèh, kapan sukses dina ngokolakeun program pamarentah kabupaten dina miara lingkungan “go green” tea.  Karang Tarunana boga ajen dina  miara kembang hias, ti ngabibitkeun, nyieun pupuk organik nepi ka sukses masarkeuna.  Teu hemeng, loba instansi pamarentah jeung organisasi pamuda sejen ti luar ngahaja studi banding ka Karang Taruna nu dipingpin Neng Ani.

  Ceuk batur kuring, bagja temen kuring meunangkeun Neng Ani mah.     Neng Ani mah wanoja singer, supel, tur darehdeh. Tangginas dina gawe ogè leubeut ku pangarti. Èta dina biantara ge, meni capetang pertentang tèh nyaan abong manukna dina miara kembang tèh, ma’lum kapan masih keneh tolab elmu di Fakultas Pertanian.  Atuh dina ngajak masarakat, pinter pisan ngirutna, kalayan sukarela masarakat milu aktip ngarojong program ieu milu miara kembang hias di buruan sewang-sewangan. Munasabah atuh komplek parumahan  tèh asri jeung resik.

Ayeuna karasa kosong hate tèh. Ngangres, tunggara, balangsak. Sok nineung, biasana maju peuting tèh  haneuteun najan ukur ceting  dina pesbuk.  Ayeuna mah estuning jempling rehe. Ukur lalangit kamar kos nu pulas bodas dipapaes ku sakadang cakcak anu ngadodoho reungit pikeun mangsana. Pangacian nyawang mangsa endah jeung Neng Ani, minangka adi angkatan di kampus beda fakultas.  Kuring rajeun mantuan tugas-tugas mahasiswa anyar dina mangsa ospek, nu ahirna jadi cukang lantaran kacangreud ati meungkeut katresna.  

Geus saminggu, kuring  teu muka pesbuk deui, baluas keneh ku komentar Neng Ani anu mangrupa komentar panungtungan. Saeutik mantak nyentug, majar kuring tèh “sakola tapi teu nyakola” anu dipungkas ku komentar nutup panto hatena pikeun kuring. Senjata makan tuan siah, kitu ceuk si Omen tea mun apaleun mah.  Nu matak hirup mah kudu asak  timbangan ceuk kolot baheula mah.

Dunia selebriti dina layar kaca nu sok ngagosip bintang pilem atawa pajabat milu mangaruhan tabeat pamirsana,  kaasup kuring.  Paduli teuing nu jadi objekna nu diadurenyomkeun, nu penting mah rating beritana naek, nu masang iklan loba.  Eta mah tipi, ari ieu mah status pesbuk.  Jigana paduli teuing nu jadi bukur caturna mah, nu penting  sohib sugema, aing gumbira titik. Èta pisan nu karandapan ku kuring.

Èta atuh pirajeuneun nempelkeun poto doger monyet nu keur euyeub di unggal parapatan lampu merah dina status pesbuk kuring, teu pira ukur ditulisan dua kecap : “Sarimin Berkacamata” anu diigelan ku sohib-sohib kuring ku   komentar-komentarna matak beureum ceuli, jauh tina tata etika, arasal eungab, ma’lum barudak atah didikan.

Horeng Pa Sar, sok disungkeman ari nganjang ka Neng Ani, sugan tèh Pa Basar, ari horeng tèh geuningan Mang Sarimin, Bapana Neng Ani. Hampura, Neng!

Gara-gara jurig pesbuk. Halik siah nyingkah.. … ****

Pasirgede - Kampus Suryakancana Cianjur

Kamis, 15 Desember 2011

Gaya Bahasa

1.      Klimaks
Adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat.
Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
2.      Antiklimaks
Adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun.
Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya
3.      Paralelisme
Adalah gaya bahasa penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris  atau kalimat. Contoh : Jika kamu minta, aku akan datang
4.      Antitesis
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya.
Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, semuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa.
Reptisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai
5.      Epizeuksis
Adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh : Kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja untuk mengajar semua ketinggalan kita.
6.      Tautotes
Ada;aj repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi.
Contoh : kau menunding aku, aku menunding kau, kau dan aku menjadi seteru
7.      Anafora
Adalah repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap garis.
Contoh : Apatah tak bersalin rupa, apatah boga sepanjang masa
8.      Epistrofora
Adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir kalimat berurutan Contoh : Bumi yang kau diami, laut yang kaulayari adalah puisi,
Udara yang kau hirupi, ari yang kau teguki adalah puisi
9.      Simploke
Adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut.
Contoh : Kau bilang aku ini egois, aku bilang terserah aku. Kau bilang aku ini judes, aku bilang terserah aku.
10.  Mesodiplosis
Adalah repetisi di tengah-tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan.
Contoh : Para pembesar jangan mencuri bensin. Para gadis jangan mencari perawannya sendiri.
11.  Epanalepsis
Adalah pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama.
Contoh : Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
12.  Anadiplosis
Adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa berikutnya.
Contoh : Dalam baju ada aku, dalam aku ada hati. Dalam hati : ah tak apa jua yang ada.

13.  Aliterasi
Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama.
Contoh : Keras-keras kena air lembut juga
14.  Asonansi
Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama.
Contoh : Ini luka penuh luka siapa yang punya  
15.  Anastrof atau Inversi
Adalah gaya bahasa yang dalam pengungkapannya predikat kalimat mendahului subejeknya karena lebih diutamakan.
Contoh : Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat peranginya.
16.  Apofasis atau Preterisio
Adalah gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal.
Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara
17.  Apostrof
Adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir.
Contoh : Hai kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air bercinta ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kau perjuangkan
18.  Asindeton
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung agar perhatian pembaca beralih pada hal yang disebutkan.
Contoh : Dan kesesakan kesedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.
19.  Polisindeton
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung.
Contoh : Kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang merontokkan bulu-bulunya?
20.  Kiasmus
Adalah gaya bahasa  yang terdiri dari dua bagian, yang bersifat berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa dan klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya.
Contoh : Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.
21.  Elipsis
Adalah gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca.
Contoh : Risalah derita yang menimpa ini.


22.  Eufimisme
Adalah gaya bahasa  penghalus untuk menjaga kesopanan atau menghindari timbulnya kesan yang tidak menyenangkan.
Contoh : Anak ibu lamban menerima pelajaran
23.  Litotes
Adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri
Contoh : Mampirlah ke gubukku!
24.  Histeron Proteron
adalah gaya bahasa yang merupakan kebailikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.
Contoh : Bila ia sudah berhasil mendaki karang terjal itu, sampailah ia di tepi pantai yang luas dengan pasir putihnya
25.  Pleonasme
Adalah gaya bahasa yang memberikan keterangan dengan kata-kata yang maknanya sudah tercakup dalam kata yang diterangkan atau mendahului.
Contoh : Darah merah membasahi baju dan tubuhnya
26.  Tautologi
Adalah gaya bahasa yang mengulang sebuah kata dalam kalimat atau mempergunakan kata-kata yang diterangkan atau mendahului.
Contoh : Kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan
27.  Parifrasis
Adalah gaya bahasa yang menggantikan sebuah kata dengan frase atau serangkaian kata yang sama artinya.
Contoh : Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu
28.  Prolepsis atau Antisipasi
Adalah gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi.
Contoh : Keua orang tua itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu.
29.  Erotesis atau Pertanyaan Retoris
Adalah pernyataan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban.
Contoh : inikah yang kau namai bekerja?
30.  Silepsis dan Zeugma
Adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama.
Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
31.  Koreksio atau Epanortosis
Adalah gaya bahasa yang mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya.
Contoh : Silakan pulang saudara-saudara, eh maaf, silakan makan.
32.  Hiperbola
Adalah gaya bahasa yang memberikan pernyataan yang berlebih-lebihan.
Contoh : Kita berjuang sampai titik darah penghabisan
33.  Paradoks
Adalah gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda.
Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil.
34.  Oksimoron
adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama.
Contoh : Keramah-tamahan yang bengis
35.  Asosiasi atau Simile
Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya.
Contoh : Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam
36.  Metafora
Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang mempunyai sifat sama.
Contoh : Jantung hatinya hilang tiada berita
37.  Alegori
adalah gaya bahasa yang membandingkan kehidupan manusia dengan alam.
Contoh : Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman.
38.  Parabel
Adalah gaya bahasa parabel yang terkandung dalam seluruh karangan dengan secara halus tersimpul dalam karangan itu pedoman hidup, falsafah hidup yang harus ditimba di dalamnya.
Contoh : Cerita Ramayana melukiskan maksud bahwa yang benar tetap benar
39.  Personifikasi
Adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup.
Contoh : Hujan itu menari-nari di atas genting
40.  Alusi
Adalah gaya bahasa yang menghubungkan sesuatu dengan orang, tempat atau peristiwa.
Contoh : Pkartini kecil itu turut memperjuangkan haknya
41.  Eponim
Adalah gaya dimana seseorang namanya begitu sering dihubungakan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan suatu sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.
Contoh : Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.
42.  Epitet
Adalah gaya bahasa yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal.
Contoh : Lonceng pagi untuk ayam jantan.
43.  Sinekdoke
-          Pars Pro Tato
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagianhal untuk menyatakan keseluruhan. Contoh : Saya belum melihat batang hidungnya
-          Totem Pro Parte
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan seluruh hal untuk menyatakan sebagian. Contoh : Thailand memboyong piala kemerdekaan setelah menggulung PSSi Harimau

44.  Metonimia
Adalah gaya bahasa yang menggunakan nama ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Ia menggunakan Jupiter jika pergi ke sekolah
45.  Antonomasia
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sifat atau ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
46.  Hipalase
Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : ia masih menuntut almarhum maskawin dari Kiki puterinya (maksudnya menuntut maskawin dari almarhum)
47.  Ironi
Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : Manis sekali kopi ini, gula mahal ya?
48.  Sinisme
adalah gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari ironi atau sindiran tajam
Contoh : Harum bener baumu pagi ini
49.  Sarkasme
Adalah gaya bahasa yang paling kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan.
Contoh : Mampuspun aku tak peduli, diberi nasihat aku tak peduli, diberi nasihat masuk ketelinga
50.  Satire
Adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu.
Contoh : Ya, Ampun! Soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya!
51.  Inuendo
Adalah gaya bahasa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya
52.  Antifrasis
Adalah gaya bahsa ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna sebaliknya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya.
Contoh : Engkau memang orang yang mulia dan terhormat
53.  Pun atau Paronomasia
Adalah kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi.
Contoh : Tanggal satu gigi saya tinggal satu
54.  Simbolik
Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang.
Contoh : Keduanya hanya cinta monyet.
55.  Tropen
Adalah gaya bahasa yang menggunakan kiasan dengan kata atau istilah lain terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang.
Contoh : Untuk menghilangkan keruwetan pikirannya, ia menyelam diri di antara botol minuman.
56.  Alusio
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pribahasa atau ungkapan.
Contoh : Apakah peristiwa Turang Jaya itu akan terulang lagi?

57.  Interupsi
adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat.
Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain.
58.  Eksklmasio
Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru atau tiruan bunyi.
Contoh : Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil.
59.  Enumerasio
Adalah beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas.
Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhempus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. Itulah keindahan sejati.
60.  Kontradiksio Interminis
Adalah gaya bahasa yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah dikemukakan sebelumnya.
Contoh : semuanya telah diundang, kecuali Sinta.
61.  Anakronisme
Adalah gaya bahasa yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian uraian dalam karya sastra dalam sejarah, sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu.
Contoh : dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam belum ada)
62.  Okupasi
Adalah gaya bahasa yang menyatakan bantahan atau keberatan terhadap sesuatu yang oleh orang banyak dianggap benar.
Contoh : Minuman keras dapat merusak dapat merusak jaringan sistem syaraf, tetapi banyak anak yang mengkonsumsinya.
63.  Resentia
Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu yang tidak mengatakan tegas pada bagian tertentu dari kalimat yang dihilangkan.
Contoh : “Apakah ibu mau….?”

Sumber : mynoble.files.wordpress.com

Kamis, 17 November 2011

Bahasa Indonesia Bisa Menjadi Bahasa Internasional

JAKARTA, KOMPAS.com — Bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa internasional karena tidak asing lagi di telinga komunitas internasional, khususnya di negara-negara tetangga. Peluang bahasa Indonesia dinilai cukup besar apabila dibandingkan dengan berbagai bahasa di Eropa.

Hal itu dikemukakan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman, Selasa (15/11/2011), di Jakarta.

”Saya optimistis bisa jadi bahasa internasional. PBB baru menolak bahasa Jerman menjadi bahasa internasional karena hanya dipakai di Jerman. Beda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di banyak negara,” ujarnya.

Untuk itu, Arif mengimbau Badan Bahasa di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lebih aktif mengampanyekan gerakan cinta bahasa Indonesia. ”Bahasa Indonesia bukan hanya dipelajari di sekolah, tetapi harus dipakai juga sebagai bahasa komunikasi harian,” ujarnya.

Untuk memperluas penggunaan bahasa Indonesia, Kepala Badan Pusat Bahasa Kemdikbud Agus Dharma berencana menambah pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia di setiap negara. Sejauh ini, ada 150 pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia di 48 negara. ”Jumlahnya akan bertambah. Kuncinya, orang akan tertarik pada bahasa Indonesia jika tertarik pada budaya kita,” ujarnya.

Meski demikian, Agus mengimbau agar jangan terlalu tinggi berharap bahasa Indonesia akan menjadi bahasa internasional. Apalagi apabila bahasa Indonesia tidak dihargai di negeri sendiri seperti saat ini.

Agus khawatir nilai-nilai bahasa Indonesia kian tergerus bahasa asing, terutama bahasa Inggris. ”Orang lebih suka memakai bahasa Inggris karena dianggap keren, pintar, dan unggul. Padahal, tidak juga. Penghargaan pada bahasa (Indonesia) harus mulai dari diri kita sendiri,” kata dia. (LUK)

Sumber: kompas.com

Senin, 31 Oktober 2011

Penantian Tak Berujung di Pintu Tol Cileunyi

Hujan rintik-rintik di pintu tol Cileunyi di Sabtu malam

Setiap Jum'at dan Sabtu, saya memiliki kegiatan sejak Februari 2011 di Cianjur.  Selama hampir enam bulan dilakukan bolak-balik Cianjur-Cileunyi. Kalau pulang agak siang, biasanya janjian di ujung tol atau di tugu batas kabupaten Bandung dan Sumedang bersama istri yang kebetulan mengajar siang dan pulang sekitar pukul 17.00.

Saya bisa mengobrol di angkutan kota yang ke arah Tanjungsari.  Seorang mahasiswa dan Ibu Guru. Tanpa anak-anak.  Dengan tas dan buku ala mahasiswa, membuat jiwa muda bergelora.  Tak peduli angkot melewati kampus almamaterku di Jatinangor, kali ini serasa menjadi mahasiswa kembali.

Suatu waktu, istri saya harus mengikuti kegiatan PGRI di Jakarta selama 3 hari yang rencananya pulang hari Sabtu.  Saya mengantar sendiri ke travel di Kopo Mas Bandung di hari Rabunya.

Sabtu siang acara di Jakarta sudah usai.  Meski saya di Cianjur, saya sarankan agar istri saya jangan melewati jalur puncak karena suka macet akibat sistem buku-tutup.  Tetapi melalui tol Cikampek saja langsung Cipularang dan turun di Cileunyi.  Prediksi saya dua  setengah jam dari Cianjur melewati jalan raya biasa akan sama dengan dua jam menggunakan bus dari Kampung Rambutan melalui tol Cipularang.

Tetapi di Ciburuy bus tertahan macet agak parah.  Sehingga tersendat-sendat.  Tetapi akhirnya tiba juga di ujung tol Cileunyi tepatnya di depan RS AMC Cileunyi.   Baterei hp ku byar-pet, hidup - mati.  Hape masih bisa dibeca ada pesan bahwa istriku sampai Cimahi menggunakan bus Karunia Bhakti AC dari Kampung-Rambutan via tol Cipularang.  Bus Karunia Bhakti via tol amat jarang, tetapi ada sekitar satu atau dua jam sekali.  Sementara bis yang sama via Cianjur hampir setengah jam sekali tiba.

Sebagai suami yang baik, dalam keadaan hujan rintik-rintik saya putuskan untuk menanti bus Karunia Bhakti tujuan Garut yang menggunakan AC.   Tiba-tiba bus yang dimaksud datang, saya pun sumringah.  Ternyata istriku tidak terlihat. Saya putuskan menunggu lagi bus yang sama dari Jakarta.

Pukul 22.00, bus datang lagi, dan hasilnya nihil lagi. Saya pun berpikir ulang untuk pulang saja, tapi angan terbawa bagaimana kalau istri turun dengan membawa tas besar sehabis kegiatan 4 hari. Kasihan juga ... Untuk mengisi pulsa, hapeku mati total.  Ada telepon umum tapi nomornya tidak ingat, karena disimpan di hape yang mati. Malam pun beranjak pekat.  Satu persatu kios menutup pintunya.  Tinggal beberapa pedagang asong yang setia mengadu nasib di kedinginan malam.

Akhirnya, saya putuskan pulang jam 23.00.  Sesampai di rumah, ternyata istriku sudah ada bercengkrama dengan anak-anak. Ia  pulang jam 18.00. Saya tidak membaca jam berapa ia meng-SMS sekitar Cimahi itu karena hape langsung mati.

Kawanku menyindir, "Hape boleh mati, tapi hati dan instink gak boleh mati.....".

Sebagai hiburan, istriku memuji "heroisme" dan "kesetiaanku" yang rela  menanti di tapal batas di ujung tol dalam waktu yang tak berujung .......

Panineungan.....Cileunyi, 28 Maret 2011 (***)/dan w dhien

Minggu, 30 Oktober 2011

Menggelorakan Atmosfer Pendidikan Melalui Seminar Intenasional

Kalangan akademisi dalam dan luar negri (foto-foto: Rudy Sy)

Masyarakat Cianjur dan sekitarnya tak perlu terbang ke luar Negeri untuk mengikuti seminar bertaraf internasional.  Juga tak harus ke ibukota Jakarta atau  terbang  ke Bali.  Penulis ingatkan, Isu seminar internasional di Bali kini marak digunakan tangan-tangan jahil untuk memperdayai kaum cendekiawan atas nama instansi Kemdiknas memilih Anda para guru/dosen.  Modusnya, biasanya guru diberi SMS, untuk kemudian menelepon ke pejabat disdik setempat. Untuk keperluan akomodasi, transpor hanya diberikan pada peserta yang memiliki kartu ATM.   Ujung-ujungnya Anda malah mentransfer balik uang milik Anda raib digondol sang penipu.
  Dua peserta dari sduadua asyik menyimak materi

Kalau yang ini nyata, kawan.  Bagi para pendidik, pemerhati pendidikan atau mahasiswa di wilayah Cianjur, Sukabumi, Bogor atau Kab. Bandung Barat, Program studi Bahasa Sastra Indonesia Pascasarjana ( S2) Universitas Suryakancana Cianjur kali kedua, bakal menggelar hajat seminar internasional, Sabtu, 4 Juni 2011.

Semangat otonomi daerah berdampak positif membuat daerah otonom di Nusantara bebenah meningkat diri.   Salah satunya berjuang mendirikan perguruan tinggi di daerah, sebagai upaya memberi kesempatan luas bagi warganya untuk menimba ilmu dan meningkatkan pengembangan dirinya.  Karena,  Indeks pendidikan merupakan salah satu barometer untuk mengukur tingkat   kesejahteraan penduduk.

 Bu Lena  serius berdiskusi materi di sela seminar
'
Dalam sejarahnya,  Universitas Suryakancana Cianjur memiliki 2 (dua) Fakultas yakni Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dan memulai aktivitas akademik pada tanggal 11 September 1964.  Setelah berdiri STKIP, kemudian menggabungkan kedua Perguruan Tinggi saat itu STHS dan STKIPS dalam satu yayasan yaitu Yayasan Pembina Perguruan Suryakancana (YPPS) Cianjur. Pada tahun 2000-an Yayasan Pembina Perguruan Suryakancana Cianjur, memperjuangkan agar di Kabupaten Cianjur bediri suatu Universitas Suryakancana atas surat keputusan Mendiknas RI No : 100/D/O/2001 Universitas Suryakancana berdiri : Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik.
Pada tahun 2008 atas surat keputusan Direktur Jendral Pendidikan Islam Nomor : Dj.I/303/2008 Tentang Izin Pembukaan Program Studi (S1) pada Perguruan Tinggi Agama Islam Swasa (PTAIS) pada Tahun 2008, maka dibukalah Fakultas Agama Islam yang terdiri dari dua program stdi, yaitu Program Studi Kependidikan Islam dan Program Studi Ekonomi Syari’ah.

Univesitas Suryakancana Cianjur memiliki 2 program magister (S2), yakni Magister Hukum dan Magister Bahasa dan Sastra Indonesia yang terakreditasi di Dikti.
Sesuai dengan Tri Dharma Perguruan tinggi bidang Pendidikan, Penelitian dan pengembangan serta Pengabdian pada masyarakat, Universitas Suryakancana Cianjur  berencana mengadakan seminar nasional dan   internasional, 28  Mei dan 4 Juni 2011.

Upaya ini  ditempuh dalam rangka pengembangan sumber daya manusia (SDM) merupakan target pertama dan utama untuk meraih kualitas manusia unggul dan kompetitif.    Kegiatan ini merupakan “gawe bareng”  Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) S2, FKIP Unsur dan MGMP Bahasa Indonesia SMA se-Kab. Cianjur akan mengadakan Seminar Internasional II bertemakan: Memperkuat Karakter Bangsa Melalui Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia.


Seorang mahasiswa sedang bertanya dalam semiloka tsb

 Narasumber terdiri dan pakar Bahasa, Sastra dan Budaya berkompeten di bidangnya.  Yakni  Prof. Dr. Henry Chambert Loir (EFEO, Lembaga Penelitian Perancis); Prof. Dr. David Reeve (University of New South Wales, Sydney, Australia; Conjoint Associate Professor UNSW, ILTI Academic Coordinator ACICIS) dan Prof. Dr. H. Yus Rusyana (UPI Bandung).

Sebelumnya, FKIP Unsur juga menggelar Seminar nasional, Sabtu, 28 Mei 2011.  Seminar ini  menghadirkan  Sastrawan dan dramawan internasional,  Putu Wijaya dan Dr. Hj. Siti Maryam, M.Pd (Sekretaris PBSI S2/FKIP Unsur)  di Aula Universitas Suryakancana.

Dengan dihadirkannya para pakar ini, diharapkan dapat membuat atmosfer pendidikan di Kabupaten Cianjur lebih bergelora.

Selain itu mampu memotivasi peneliti, para guru maupun mahasiswa untuk meneliti dan mengaplikasikannya sebagai basis pendidikan karakter di Indonesia. *** (dan w dhien)

Link : (klik) lihat di sini Kompasiana