BERBAKTI DAN MENGABDI

BERBAKTI DAN MENGABDI

Kamis, 01 Maret 2012

Harapan di Tengah Permasalahan Pendidikan Dasar dan Menengah


oleh


 
      A.    Pengantar
Kondisi rendahnya mutu pendidikan di Indonesia cenderung dibesar-besarkan dan kurang didalami faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Mengapa mutu pendidikan kita rendah? Jawaban yang mudah dan sering dikemukakan adalah kurikulum sering berganti, sarana dan prasarana pendidikan kurang memadai, dan gaji guru rendah. Tanpa memperhatikan faktor-faktor relevansi yang dimaksudkan dengan itu. Padahal ada hal-hal lain yang lebih mendasar yang perlu mendapat perhatian lebih serius. Hal-hal yang mendasar itu yaitu tidak dipraktikkannya ilmu pendidikan dan merajalelanya kecelakaan pendidikan merupakan dua hal yang menjadi akar rendahnya mutu pendidikan tersebut.


B.    Pentip dan Kecelakaan Pendidikan
Tidak dipraktikkannya ilmu pendidikan atau pendidikan tanpa ilmu pendidikan (pentip), yakni tidak dipraktikkannya ilmu pendidikan dalam penyelenggaraan praktik pendidikan di Indonesia. Menurut Prof. Dr. Prayitno, M.Ed., dalam bukunya; “Pendidikan: Dasar, Teori, dan Praksis” (2009 : 1), yaitu bahwa pendidikan kita memerlukan pemenuhan basic need-nya pendidikan, yaitu Ilmu Pendidikan (IP). Pentip sejalan dengan tidak terpenuhinya basic need itu, yang secara langsung mengkerdilkan kehidupan pendidikan, ibarat anak yang tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya, sehingga kurang gizi, terkena penyakitan, dan busung lapar.


Kecelakaan pendidikan dapat berbentuk pelecehan dan penganiayaan terhadap peserta didik yang berakibat terhambatnya, bahkan hilangnya kesempatan dan hak-hak pendidikan peserta didik. Tidak boleh masuk sekolah karena tidak bisa membayar SPP, tidak memakai baju seragam, dimarahi dan dihukum karena terlambat/membolos atau tidak mengerjakan pekerjaan rumah, diskors atau bahkan dikeluarkan dari sekolah, semuanya merupakan kecelakaan pendidikan. 


Kaitan dengan SPP, nampaknya bagi pendidikan dasar sudah tidak menjadi masalah krusial karena pemerintah melalui Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara. Disusul kemudian dengan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar merupakan kebijakan yang mendukung masyarakat atau orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya minimal pendidikan dasar sembilan tahun, yang dibiayai oleh dana APBN melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan bantuan siswa miskin (BSM). Untuk SPP dengan dana BOS tersebut dan transport bagi siswa miskin dengan dana BSM. Sehingga tidak menjadi alasan penyebab terjadinya putus sekolah dasar 9 tahun. Selain untuk pendidikan dasar, kita berharap pula pendidikan menengah dapat dibiayai oleh dana APBN melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tersebut. Karena masih banyak lulusan SMP/MTs yang tidak mampu melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Mereka atau orang tua beralasan bahwa biaya pendidikan menengah mahal. Dengan adanya dana BOS bagi SMA/MA/SMK/MAK, maka para siswa yang telah menyelsaikan pendidikan di tingkat SMP/MTs dan sederajat dapat melanjutkan ke SMA/MA/SMK/MAK dan sederajat.


Hak-hak pendidikan peserta didik yaitu mengikuti kegiatan (a) rohani, (b) jasmani, dan (c) berbahasa. Kegiatan rohani meliputi berniat, berkehendak, berpikir, berimajinasi, mengingat, merasa dengan hati, dan mengimani. Kegiatan jasmani meliputi menggerakkan kepala, badan, kaki, tangan, dan seterusnya. Sedangkan kegiatan berbahasa meliputi keterampilan menyimak/mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.


Kembali kepada kecelakaan pendidikan berikutnya. Pada tahun-tahun terakhir ini, kecelakaan pendidikan mencuat melalui praktik menyontek yang ramai diberitakan di Televisi dan Surat Kabar. Kepada para siswa sepertinya dijanjikan bahwa dalam mengerjakan soal-soal ujian, baik ujian sekolah, apalagi ujian nasional (UN) akan memperoleh bantuan jawaban dari pihak tertentu di luar diri mereka sendiri, bahkan ada yang langsung dari guru mereka dan/atau teman mereka atau dari tim sukses yang dibentuk secara khusus untuk itu. Alasan utama yang sering mengemuka atas kegiatan menyontek itu adalah untuk menjaga citra sekolah (agar siswa di sekolah yang dimaksud lulus semuanya), dan/atau untuk meningkatkan peringkat mutu pendidikan di daerah yang dimaksud. Praktik menyontek ini dapat benar-benar menjadi kecelakan pendidikan, mengingat akibat yang ditimbulkannya pada diri peserta didik, yaitu mereka menjadi merasa tidak perlu berdisiplin dalam belajar, tidak perlu bekerja keras untuk mencapai keberhasilan, dan tidak perlu berlaku jujur dalam mencapai sesuatu yang benar (Prayitno, 2009 : 2). Dengan demikian, maka akan hancurlah kunci-kunci dan sendi-sendi kehidupan yang sukses melalui kedisiplinan, kerja keras, kejujuran, ketekunan, dan keuletan.


Mengapa pentip dan kecelakaan pendidikan itu terjadi? Menurut Prayitno (2009 : 2), tanpa menuding salah satu pihak, hal-hal berikut pada umumnya merupakan penyebab yang cukup signifikan, yaitu pendidik tidak dilatih terlebih dahulu untuk melaksanakan tugas-tugasnya (untrained), tidak terlatih dengan baik (undertrained), kurang peduli atas tugas dan kewajibannya (uncommitted), fasilitas pendidikan rendah (underpaid), sikap pragmatism, dan keberatan beban. Semua penyebab tersebut sebenarnya terkait dengan dibiarkannya IP. Karena pentip itulah berbagai praktik pendidikan dilaksanakan menjadi salah, sampai-sampai menimbulkan berbagai kecelakaan pendidikan. Dengan kata lain, pentip harus dilawan dengan pendip, yaitu pendidikan tanpa ilmu pendidikan harus dihancurleburkan melalui pendidikan dengan ilmu pendidikan.


C.    Pengaturan Standar Nasional Pendidikan
Penyelenggaraan pendidikan dengan ilmu pendidikan sekarang ini, kita memiliki segudang harapan terhadap pendidikan tersebut, yaitu sejak diundangkan dan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanan Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen, Tunjangan Khusus Guru dan Dosen, serta tunjangan kehormatan profesor, Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Berkaitan dengan Standar Nasional Pendidikan, Pemerintah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tersebut membentuk Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).  BSNP telah menunaikan kewajibannya yaitu menyusun Standar Nasional Pendidikan melalui pelaksanakan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut di atas dengan tekhnis pelaksanaannya yang tertuang di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional yakni dengan menetapkan delapan Standar Nasional Pendidikan. Delapan Standar Nasional Pendidikan tersebut, yaitu : (1) Standar Isi, (2) Standar Proses, (3) Standar Kompetensi Lulusan, (4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (5) Standar Sarana dan Prasarana, (6) Standar Pengelolaan, (7) Standar Pembiayaan, dan (8) Standar Penilan.


Pendidikan dengan ilmu pendidikan yang dimaksud adalah praktik pendidikan semua lembaga pendidikan dasar dan menengah harus mempedomani dan melaksanakan delapan Standar Nasional Pendidikan tersebut.  Delapan Standar Nasional Pendidikan ini tekhnisnya tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah/Madrasah (RKA-S/M) serta Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/MA/SMK/ MAK. KTSP ini sebagai program sekolah/madrasah dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2006 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 dan 23 tahun 2006 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. Dengan demikian, KTSP tersebut sejalan dengan manajemen kurikulum berbasis sekolah atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagaimana yang ditulis oleh Dr. E Mulyasa, M.Pd., dalam bukunya yang berjudul Manajemen Berbasis Sekolah (2002).


Dalam rangka memanajerial program sekolah/madrasah, maka dibutuhkan pemimpin yang mempunyai pengetahuan yang komprehensif tentang penyelenggaraan pendidikan dengan ilmu pendidikan tersebut di atas. Kepala sekolah/madrasah merupakan manajer yang harus dapat melaksanakan pendidikan dengan ilmu pendidikan. Sebagai seorang manajer, maka kepala sekolah/madrasah harus memenuhi standar kepala sekolah/madrasah sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Untuk memenuhi standar kepala sekolah/madrasah tersebut diperlukan menyiapkanya melalui pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah/madrasah sebagai suatu tahapan dalam proses penyiapan calon kepala sekolah/madrasah melalui pemberian pengalaman pembelajaran teoretik maupun praktik tentang kompetensi kepala sekolah/madrasah yang diakhiri dengan penilaian sesuai standar nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah.


D.    Penutup
Melalui uraian tersebut di atas, maka harapan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia pada masa yang akan datang menjadi lebih berkarakter baik. Hal ini yang diharapkan oleh kita semua. Oleh karena itu, mari kita perjuangkan oleh semua pihak, baik pemerintah, ormas, yayasan, tokoh pendidikan, orang tua, dan lainnya untuk menuju kepada pendidikan yang menumbuhkembangkan tunas-tunas bangsa menjadi pemimpin bangsa yang berkarakter mulya. Memperjuangkan pendidikan bagi tunas-tunas bangsa yang berkarakter baik tersebut merupakan amal yang sangat mulya. Tentu saja para pejuannya dapat dikategorikan sebagai pahlawan bangsa yang sangat berjasa bagi agama, nusa, dan bangsa. Sekian, terima kasih, semoga bermanfaat. Amien. **




[*] 1. Tenaga Pengajar di Pesantren Persatuan Islam 04 Cianjur
   2. Mahasiswa Pascasarjana (S.2) Universitas Suryakancana Cianjur Semester 3 Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Selasa, 07 Februari 2012

Carpon: KADUHUNG SAGEDE GUNUNG GEDE


karya : Dadan Wahyudin   
(dimuat di koran "TRIBUNJABAR", kaping 31 Januari, 1 sareng 2 Februari 2012 kaca 11)   

Tribun Jabar, Salasa, 31 Januari 2012

PIWURUK GURU téh geuningan karasa ayeuna mah, yén diajar kudu soson-soson, bisi kaduhung jagana.  Béda jeung harta banda, élmu mah moal hésé mamawa. Moal hariwang digarong atawa aya nu nyopét. 
Baheula basa bapa jumeneng kénéh, kuring pada ngogo ku koléha bapa, dipihormat tur dipikaajrih ku balaréa.  Ma’lum bapa  ngagem kalungguhan, kungsi jadi kadés dua periode di wewengkon Cidaun Cianjur Kidul. 
Ayeuna hirup kacida balangsakna. Aya paribasa, jalma mah mending urut jalma sangsara, tinimbang urut jalma beunghar. Tumiba ka diri kuring, rajakaya anu bro di juru bro di panto ngalayah di tengah imah ceuk nu rahul mah moal béak tujuh turunan tétéla korédas sakereles, lir cihujan ragrag kana daun taleus. Sawah, balong tur kebon, cohagna mah satungtung deuleu ti pasir beulah wetan ka pasir béh kulon  ladang ngumpulkeun nalika bapa nyepeng kalungguhan, kiwari taya nu nyésa.  Kuring teu bisa ngokolakeuna. Alatan untung kalah buntung.
Usaha mercayakeun modal ka batur mah loba kabelejogna.  Satadina mah, hayang hirup énténg tina invés saham, hirup geunah kari ucang anggé, unggal bulan teu weleh nampa bagi-hasil atawa pelesiran dina pakansi.
Ari dina promosina mah matak kataji, pinter pisan ngirutna. Usaha pakét ngabibitkeun hayam pelung anu sapakétna ukur 10 juta, jangka dua taun baris balik jinis tur batina mayeng ditransper kunu ngokolakeun ka nu nyimpen modal salila lima taun. Majar manéh téh keur ceuyah, loba pesenan ti mancanegara anu raresepeun ku halimpuna sora hayam, minangka ternak pinunjul teureuh Cianjur.
Kaduana, ancrub dina usaha hayam patelor. Kuring salaku invéstor teu kudu nyaho di mana jeung kumaha miara hayamna,  nu penting mah setor duit pakét ka bank. Lamun panasaran kana rupa hayam atawa kaayaan kandang hayam mah, cukup muka waé internét. Aya poto-potona kumplit, tinggal di-“download”. 
Bulan kahiji mah wayahna sing sabar, acan aya bagi-hasil, da hayam endog mah ngendogna dina mangsa nincak umur 6 bulan. Jadi di bulan katujuh kakara dibéré hasilna.  Itungana kaharti ku akal, nandakeun cirining usaha riil.  Coba tengetan: duit 5 juta cenah dipaké meuli 100 bibit hayam, dina mangsa 6 bulan bakal endogan, produksina ditaksir 50 perséna, sabulana diitung 28 poé, jeung hargana  500 rupia tina saendogna. Ngarah teu kudu ribed, duit bagi-hasil kari ditungguan, baris ditransper langsung kana  nomer rekening séwang-séwangan. 
“Janten tina 100 hayam dikali ukur 50% dikali 28 dinten teras dikali Rp. 500 minangka harga endog, hasilna kénging 700.000 rupia sabulan kanggo Adén. Tah dikali deui 12 sasih pami dina sataun panginten Adén ngeupeul  8.400.000 rupia. Cobi lamun 3 taun pas hayam diapkir, 25.200.000 rupia lebet kana saku Adén, tina jinis ukur 5 juta,” kitu promosi si Odéd harita bari mencétan kalkulator.
“Ari pausahaan meunang bati ti mana?” cekéng téh can pati kaharti.
“Pausahaan tina ladang ngical bibit gé tos untung, da méséran langsung ti patani anu gaduh pancén miara hayam ti DOC nepi ka dara ukur 15.000 rupia, ku pausahaan diical ka invéstor Rp. 50.000, aya langkung 35.000 rupia sanés? Tah, pami hayam ngendog langkung ti saparona,  tur harga di pasar langkung ti 500 rupia sareng gaduh sésa dinten ti étangan 28 dinten, éta minangka bonus pikeun pausahaan. Sareng deuih tiasa ngical hayam apkir sareng gemukna,” cenah teu kireum-kireum ngadoja kuring ku basa anu soméah daréhdéh, abong calo. Kuring bati unggut-unggutan tandaning kaharti.
Prospéktip, kauntungan nikel, balik jinis gancang, teu capé jeung énténg, duit baris balik bari reundeuy anakan incuan ha ha…. nu model kieu cocog  jeung cita-cita kuring, cekéng dina haté.  Béléngéh kuring seuri sorangan.  Emhh, hirup asa kubagja. Kieu ari geus gurat hirup pibeunghareun mah.  
Ayeuna lamun ngandelkeun ladang tina sawah, teu kaérong hasilna. Tilu bulan disambut, biheung kaala biheung moal. Pangpangna hama wereng jeung beurit mahabu taya reureuhna. Kitu usaha séwa parahu teu bisa dibawa lumpat, usum pabaru mah pamayang balayar téh sarieuneun, ombak tingjelegur ngagulung méh sasuhunan imah.
Sawah warisan ti bapa satengahna ahirna dijual pikeun modal pakét hayam. Kaasup kabéh parahu titinggal bapa ogé kapaksa dilégo pikeun usaha miara lauk emas di jaring apung di Panté Malébér Cirata. Invéstor cukup  nyadiakeun modal, teu susah ilubiung miara laukna.  (Antos Sambungan dina Tribun Edisi Rebo (1/2)
 Tribun Jabar, Rebo, 1 Februari 2012
Sambungan ti dinten Salasa (31/1)
Dunya mah teu lurus. Loba pungkal péngkolna. Kitu ogé tabéat jalma, réa ukal ékolna, mindeng kalimpudan ku napsu jeung hawa sarakah.  Aturan anu hadé tur bengras, diarakalan ukur alus dina biwir wungkul. Dina prak-prakana mah mémbléh...  Program pakét tarékah nataharkeun pikeun ngaronjatkeun kasejahteraan rahayat, loba diarakalan pikeun ngarawu duit gedé kalawan gancang.  Geus papada sipating manusa, hayang senang ku jalan énténg.  Tabéat éta diulik ku jalma jahat. Ngarah percaya biasana kiriman duit “bagi-hasil” munggaran mah ngahaja sinah lancar, maksudna ngarah pabéja-béja ka batur.  Beuki euyeub nu jadi anggota beuki loba nu kudu dicumponan, antukna pakét teu kabayar, palakuna mun teu dibui paling minggat.
Eta nu karandapan ku kuring.  Kuring duka invéstor ka sabaraha, nu jelas ukur kabagéan dua bulan transperan duit bagi-hasil téh, kabéhdieukeun lapur. Rék ngalaporkeun ka pulisi, saha nu dilaporkeuna, da si Odéd ukur calo wungkul. Rék diontrog ogé kantorna gé ukur nyéwa ruko anu kiwari geus ganti nu nyéwa. 
Sésa sawah ahirna ledis nungtut dijualan dipaké pangabutuh hirup sapopoé. Ayeuna kari imah butut, anu suratna geus diborahkeun ka réntenir. Imah urut badéga jenatna bapa baheula, anu maot taun kamari kalayan teu boga kulawarga, nya dijadikeun panganjrekan kuring. Geus dua kali si Ejé datang, cenah lamun manéhna datang deui katilu kalina, heug kuring can bisa naur hutang, bakal diusir. Emh, aya ku raja téga ari ucing garong…
Ras nyawang ka mangsa katukang. Jelegurna paul ombak basisir Cidaun umpal-umpalan katara endah ngagenyas. Pamayang sibuk nurunkeun lauk hasil balayar sapeupeuting nyorang sagara pikeun makayaan kulawargana.  Gara-gara kolot teu bisa ngatik ngadidik turta teu nyiapkeun pibekeleun hirup budak ka hareup, jalan hirup kuring pohara tarahalna.  Kétang kuring ogé rumasa.  Taya hojah, gawé ngan ukur ngadudut duit  ti patani atawa pamayang anu buburuh ka bapa.  Duitna dipaké ulin jeung meulian nu teu paruguh.
Nu matak basa disakolakeun ku bapa di Cianjur Kota gé, kawas kuda leupas ti gedogan. Sagala kahayang dianteur. Kuring jadi gedé hulu, hayang meunang pamuji ti batur, yén sanajan kuring asal ti lembur bau lisung nu adek ka laut kidul, dina hal gaul kuring teu éléh ku urang kota.
Sabalikna, kana palajaran justru tibalik, kuring mah kacida weugahna, hésé ngartina, gampang pohona, loba mabalna batan asupna. Lamun kawénéhan aya batur sakelas anu rajin diajar, mindeng dijejeléh.
“Laah, Na. Getol-getol teuing diajar. Persidén geus aya, menteri geus aya, tentara réa, pulisi balatak, paling jadi tukang tambal jiga bapa manéh  ha ha ha…” ceuk kuring ka Asna anu keur ngadekul maca buku bari dipungkas ku seuri ngagakgak. Diigelan ku balad kuring  kawas si  Waton, Sulé, Lépos, jeung si Item tinggaragakgak bangun ku sugema. 
Eta mah kajailan leutik. Dosa kuring nu moal bisa dipohokeun ku Asna, sigana basa ngarebut Andini ti Asna.  Harita Asna minangka Katua OSIS di sakola, Andini sekretarisna. Dua rumaja aktip dina kagiatan sakola. Jajaka jeung wanoja keur ngalaman mamanisna meungkeut katresna minangka cinta munggaran baruntak alatan kuring. Kuring meredih ka bapa kuring sangkan bisa mibanda Andini anu kabeneran bapana koléha bapa kuring. Pa Bisri, bapana Andini ngabandar kalapa di kota Cianjur, anu barangna mindeng  dikiriman ti Cianjur Kidul.  Taya lian beunang ti anak buah bapa di wewengkon Cidaun.
Pikeun mayengna bisnis kalapa tur sérab ku kalungguhan bapa,  Pa Bisri teu bisa pakumaha, najan Andini keukeuh hayang kuliah, ahirna tumarima dikawin kuring. Kuring ka balé nyungcung ngawangun rumah tangga dina umur rumaja kénéh.
Basa Andini direbut ku kuring, Asna katangar ngalanglayung. Tapi najan kitu, Asna getol nyelangan bapana milu nambal, malah mindeng maturan bapana nepi ka peuting. Tamba kesel nungguan pasén, Asna rajeun maca buku di kiosna.   
“Punten…” Gebeg. Kuring reuwas kacida.  Jajantung ratug tutunggulan méh copot sapada harita. Sok sieun si Ejé jadi ngusir.  Imah butut ogé geuning kacida mangpaatna.  Bisa méré martabat kuring salaku kapala kulawarga. Tempat reureuh anak pamajikan. Lamun heug diusir, atuh rék ngiuhan di mana, pamajikan jeung budak dua. Palias ari kudu ngalaman saré di saung kardus atawa kolong jambatan. Ah, rék dilawan, kitu-kitu teuing, rék diasongan bedog sugan. Kuring kabawa napsu!
Barang panto dibuka tétéla lain si Ejé. Haté bungangang.  Horéng budak ngora kakara lulus SMA. Manéhna ngirim ondangan ti Asna, cenah Asna hayang reuni leuleutikan jeung batur sakelas anu mancén tugas atawa nganjrek di wewengkon pakidulan Cianjur Tempatna di pendopo Sindangbarang Ahad hareup.
Barang telek nu ngondang Asna, kuring langsung su’udon. Nyel haté ngahéab. Ukur kekerot, teu bisa pakumaha. Asna ngahaja rék ngawiwirang kuring di hareupeun batur sakelas pédah manéhna geus jugala. Manéhna masih boga haté kadua leutik ka Andini urut bébéné manéhna anu direbut ku kuring. Sanajan hirup aing nangkub, cadu ari kudu serahbongkokan kitu peta mah.   (Antosan sambungana dina Tribun Kemis, 2 Feb 2012)
Tribun Jabar, Kemis, 2 Februari 2012

Sambungan ti dinten Rebo (1/2)
Tétéla geuning….. Asna beda jeung sipat kuring anu teu weléh ngalajur napsu ngumbar amarah. Haténa beresih lir cai gunung ngagenyas hérang taya geuneuk maleukmeuk saeutik-eutik acan. Najan kungsi dinyenyeri ku kuring, éh soléh henteu dendem, daréhdéh jeung akuan teu dibuda-béda ka sakumna baturna kaasup kuring.
Asna mah motékar, kuring gé muji. Najan hirup kumbuh di sisi jalan mindeng mantuan nambal jeung bapana  sarta ukur tamat SMA, kiwari Asna jeneng. Sikep disiplin  tur tulatén anu ngancik dina dirina geus nganteurkeun jadi pangusaha béngkél nu boga ajén sakabupatén Cianjur. Asna rék ngagarap wewengkon basisir Cianjur Kidul kayaning Naringgul, Agrabinta, Sindangbarang jeung Cidaun pikeun “ekspansi” usaha béngkélna.  Lian ti éta, Asna boga niat ngajeujeuhkeun batur sakelasna anu masih kénéh ngaligeuh atawa teu boga gawé matuh, utamana anu nganjrek di pakidulan, rék diajak usaha babarengan.  Sakalian Asna ménta do’ana réhna bulan hareup rék indit jarah ka tanah suci sakulawarga.
Réngsé ngawangkong ngalor-ngidul, batur-batur Asna anu butuh pakasaban ku Asna diajak ngobrol sacara pribadi minangka wawancara. Batur-batur séjén nu boga gawé merenah mah tuluy uplek ngaguar mangsa éndah di sakola baheula. Kuring satadina mah rék mabal kasieunan, ku sikep Asna sakitu soméahna teu jadi.  
“Dupi, Adén kersa nyepeng Kapala Bengkel Cabang Cidaun? Supados caket sareng kulawargi…” ceuk Asna meni daria naker bari tetep ngaadénkeun ka kuring. Kuring samar polah. Sakedapan ngembang kadu rék dibéré jabatan sakitu luhungna.   
“Aduhh, punten sanes nolak pangasih, Pa Asna. Rumaos abdi mah jalmi teu gaduh kaparigelan nanaon, ku badé diangkena janten padamel ogé kalintang bingahna,” ceuk kuring teu sakara-kara dumadakan bisa basa lemes, biasana garihal jeung saengabna. Lain teu daék jadi Kapala, duméh teu boga élmu nanaon komo kudu ngamenej pagawé sagala. Kumaha mun bangkrut? Mending gé jadi pagawé biasa wé, kitu galécok haté. Si Junéd mah pantes dipersén Kapala Béngkél di Agrabinta kapan lulusan tehnik Suryakancana, kitu ogé si Deni di Naringgul manéhna jebolan tehnik Itenas Bandung.
“Kinten-kinten cocog di posisi mana Dén, supados abdi gampil metakeun karyawan kanggo di cabang Cidaun? Wios kepala cabang Cidaun urang eusi ku padamel ti pusat,” ceuk Asna bari ngagutret nyentangan format  eusian wawancara.
“Ah, abdi mah wios wé atuh bagian ngahampelas  atanapi ngelap mobil anu atos diservis wé, éta gé manawi kaanggo..” ceuk kuring tungkul.  Haté bati kumejot jeung gereget dibéré kalungguhan sakitu hadéna, bet ditolak. Kaduhung sagedé gunung gedé,  Baheula kedul diajar, teu nurut ka kolot jeung ka guru.  Sakola saukur lulus wungkul, teu boga kaparigel nanaon. Ahirna sué. Kasempetan moal datang dua kali, ceuk si Sulé mah.  
Lamunan kuring kagebah ku sora resleting basa Asna muka kantongna.
“Ieu gajih Adén anu munggaran!” ceuk Asna bari ngasongkeun amplop bodas.
“Naha? Kapan abdina ogé teu acan damel?” cekéng semu kerung, teu wani nampa, bisi kuring disangka baramaén ilubiung dina gempungan ieu. Sudi teuing!
“Sadaya karyawan abdi mah, gajihna dipayunkeun, supados suhud sareng tiasa kanggo modal di damel,” ceuk Asna daria bari mémérés kantongna.
“Sareng ieu, katineung ti pun bojo, anu teu tiasa nyarengan. Lumayan kanggo boro-boroeun anu di bumi. Sumangga ditampi!” ceuk Asna méré kontang anu eusina emi, abon, sardencis, sirop, tauco, jeung rupa-rupa kueh. Panyangka téh, Asna ngahaja rék ngabeubeutkeun martabat kuring pédah hirup kuring ayeuna keur sué atawa masih kénéh boga duriat ka Andini. Panyangka kuring nyalahan. Sabot ditanyakeun ka si Junéd jeung si Déni, singhoréng papada mareunang amplop jeung kontang. Kitu ogé si Waton balad kuring anu sapopoé nyalo di stamplat Sindangbarang diperenahkeun jadi Satpam di béngkél cabang Sindangbarang sarua pada kabéré..
“Aya keur ngalunasan si Ejé jeung pangbagéa nu di imah,” gerentes haté satengah lumpat muru angkutan anu ka Cidaunkeun.  Hayang geura-geura amprok jeung Andini katut barudak.  Rumasa lamokot ku dosa. Geus moporékeun jeung nganyenyeri wungkul. Turta jangji rék ngawangun kahirupan anu hadé, bari miceun sagala su’udon.  
Alhamdulillah Gusti, kuring diparengkeun boga batur anu haat bisa méré sumanget turta ngajait tina lamping anu lungkawing. Sajajalaneun angkutan mapay basisir,  tingjelegurna ombak sagara Hindia nu satadina pikakeueungeun katara éndah mawa harepan.. ****     
     (Pasirgede kasorenakeun, Kampus Suryakancana, Cianjur)

BAHASA NASIONAL: KEBANGGAAN DAN IDENTITAS BANGSA

 
Oleh : Dadan Wahyudin
dimuat di Majalah ISMA Cianjur Edisi 114 Tahun XIII, 23 Januari - 22 februari 2012 

Bangsa Indonesia cukup beruntung memiliki bahasa nasional sekaligus berfungsi sebagai bahasa negara yang proses pemilihannya relatif mulus. Sejumlah negara dihadapkan pada proses rumit dalam penentuan lambang kebanggaan dan identitas bangsanya. Tak jarang gejolak sosial-politik  menyertainya.

Filipina merupakan negeri tetangga memiliki historia serupa dengan Indonesia. Saat itu Portugis dan Spanyol terlibat konflik di Maluku. Mereka menyepakati perjanjian, Spanyol  mendapatkan Filipina dan Portugis di Maluku.  Akan tetapi serangan Belanda, membuat Portugis lari dan  akhirnya bertahan di Timor Timur. Tahun 1892, Spanyol ditaklukan AS. 

Filipina pernah mengalami ketegangan politik dalam menentukan bahasa nasionalnya. Sejak merdeka tahun 1946 hingga 1972, Filipina mengambil bahasa Spanyol sebagai bahasa resmi kenegaraan. Kemudian memilih bahasa “Pilipino” (dengan huruf “P” berdasarkan bahasa Tagalog) sebagai bahasa nasional dan ternyata kurang berkenan di hati rakyatnya. Pasalnya, bahasa Tagalog hanyalah salah satu bahasa suku dominan, tetapi tidak dipahami oleh suku-suku lain. Tahun 1973, Majelis Konstituante Filipina menetapkan bahasa “Filipino” (dengan huruf “F”) sebagai bahasa nasional dan akan didasarkan pada semua bahasa daerah di Filipina. Adapun bahasa resmi kenegaraan, Filipina memilih bahasa Inggris yang diadopsi dari penjajah terakhirnya yaitu AS. Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa komunikasi antarsuku secara wilayah luas di Filipina.

Bangsa India akhirnya memilih bahasa Inggris menjadi bahasa negara karena bahasa Inggris telah menjadi “lingua-franca” di antara beragam suku di jazirah India.  Untuk meredam gejolak sosial, India menggunakan bahasa nasional lebih dari satu yaitu bahasa Hindi, bahasa Benggali, bahasa Tamil dan bahasa Malayalam. Masalah kebahasaan di negara kecil Singapura terbilang ruwet.  Singapura memiliki tiga etnis utama yaitu Cina, India dan Melayu. Singapura akhirnya memilih satu bahasa nasional yaitu bahasa Melayu dan empat bahasa resmi negara yaitu bahasa Melayu, bahasa Hindi, bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Akan tetapi dalam praktiknya penggunaan bahasa Inggris lebih dominan. 

Perjuangan menentukan bahasa nasional bagi negara sekelas Amerika Serikat bukan pekerjaan mudah.  AS baru menentukan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi negara pada 18 Mei 2006. Di Kongres, suara yang menyetujui bahasa Inggris sebagai bahasa nasional berjumlah 64 orang dibanding 34 yang tidak menyetujui. Urutan kedua adalah bahasa Spanyol karena memang kantong-kantong etnis Spanyol banyak tinggal di Amerika, dan urutan ketiga bahasa Jerman. Perjuangan menentukan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional dimulai sejak 1981. Banyak warga AS menginginkan kemajemukan bahasa diwadahi, seperti kemajemukan etnik dan budaya dan tidak ada sebuah bahasa  yang lebih dominan dari yang lain, sehingga tidak perlu bahasa nasional.

Bersitegang
Kasus pertentangan politik akibat bahasa, salah satunya terjadi di Quebec, Kanada.  Perdebatan bermula sejak tahun 1960, antara penduduk Quebec yang bersikukuh dengan bahasa Perancis dan penduduk daerah lain berbahasa Inggris. Bahasa Perancis sangat dominan di negara bagian Quebec (setingkat provinsi), sementara bahasa nasional Kanada  menggunakan bahasa Inggris.  Konflik ini berujung pada tuntutan pemisahan Quebec menjadi negara merdeka.  Referendum pun dilakukan pada tanggal 30 Oktober 1995. Mosi pemisahan Quebec dari Kanada akhirnya dikalahkan dalam perolehan suara pro-integrasi dengan Kanada (50,58 persen) dengan perbedaan amat tipis yakni  49,42 persen untuk pendukung pemisahan wilayah. 

Sementara Belgia di Eropa negeri berpenduduk 10,6 juta jiwa dan dikenal sebagai markas besar NATO-nya dikoyak ketegangan berkelanjutan akibat penggunaan bahasa.  Problematika itu menjadi persoalan serius mengancam disintegrasi bangsa dan sering menumbangkan rezim berkuasa. Belgia memiliki tiga bahasa dominan, yakni bahasa Belanda, Perancis, dan minoritas Jerman. Pengguna bahasa Belanda merupakan mayoritas, yakni 6 juta jiwa dan disusul  bahasa Perancis sebesar 3,5 juta jiwa, dan  bahasa minoritas Jerman sekitar 1 juta jiwa.

Kondisi penutur bahasa Belanda secara status sosial relatif lebih makmur, selama bertahun-tahun merasa didominasi oleh masyarakat berpenutur bahasa Perancis. Ini terjadi sejak Revolusi 1803. Di Belgia, seolah ada garis imajiner memisahkan kantong-kantong pengguna kedua bahasa ini.  

Bagi warga Belgia berbahasa Belanda, dominasi bahasa Perancis dalam kehidupan bernegara merupakan bentuk lain dari penjajahan. Hampir seratus tahun, pergerakan Flemish memperjuangkan agar bahasa Belanda dipakai di pemerintahan, pengadilan, sekolah, dan ketentaraan di Flandria (wilayah berpenutur bahasa Belanda) dan pada akhirnya konstitusi versi bahasa Belanda baru berhasil ditulis.  Hasil pertama dari tuntutan ini tercapai tahun 1921, ketika badan legislatif Belgia menetapkan bahwa bahasa Belanda sebagai bahasa resmi di propinsi-propinsi di Flandria dan bahasa Prancis menjadi bahasa resmi di propinsi-propinsi di Wallonia. Kota Brussel sebagai ibukota negara ditetapkan sebagai daerah khusus bilingual (dua bahasa adalah bahasa resmi).

Sejarah Bahasa Indonesia
 Indonesia beruntung dalam memilih bahasa nasional dan bahasa resmi negaranya relatif mulus. Begitupula Malaysia memilih bahasa Malaysia (sama-sama berbasis bahasa Melayu) sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara, meskipun golongan “atasan” lebih senang menggunakan bahasa Inggris. Antara tahun 1957-1967 Malaysia menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi.

Penetapan bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa nasional  didasari kenyataan bahwa bahasa Melayu sejak abad ke-16 telah digunakan sebagai bahasa “lingua-franca” di seluruh Nusantara.  Meskipun jumlah penuturnya relatif kecil (4,9%) dibandingkan penutur bahasa Jawa dan Sunda, tetapi wilayah pemakaian bahasa Melayu cukup luas meliputi sepanjang timur pantai Sumatera, Semenanjung Malaya, wilayah selatan Thailand, serta pesisir Jawa dan Kalimantan.  Bahkan bahasa Melayu pijin (pasar) digunakan mencapai di wilayah timur Indonesia seperti: Ambon, Ternate, Manado, Jayapura, Kupang hingga Merauke. Karena minoritas ini pula diyakini mampu meredam konflik, berbeda jika pemilihan bahasa nasional menggunakan salah satu bahasa daerah dominan (bahasa Jawa atau Sunda). Bahasa Jawa dan Sunda meskipun memiliki penutur peringkat satu dan dua di Nusantara, tetapi hanya mendiami suatu wilayah tertentu.   

Bahasa Melayu telah mengalami proses standarisasi, terutama melalui sistem pendidikan kolonial Belanda. Pembakuan ejaan pertama kali dilakukan tahun 1901 oleh sarjana Belanda bernama Ch. A. van Ophuijsen yang diberi tugas melakukan hal ini dan dari karyanya dikenal ”ejaan van Ophuijsen”.  Di tahun 1947, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Mr. Suwandi merevisi ejaan tersebut, hasilnya ejaan lebih sederhana yang disebut “ejaan Suwandi” atau “ejaan Republik”.  Proses pembakuan bahasa Indonesia terus mengalami perbaikan dan pemerintah menetapkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) tahun 1972. Untuk mempermudah pembakuan bahasa Indonesia, tahun 1988 diterbitkan “Kamus Besar Bahasa Indonesia” dan “Tata Baku Bahasa Indonesia”.  

Sementara lembaga bertugas dalam perencanaan bahasa di Indonesia dimulai dengan berdirinya “Commisie voor de Volkslectuur” di masa pemerintah kolonial tahun 1908, kemudian berubah menjadi “Balai Pustaka” tahun 1917. Tahun 1942, pemerintah pendudukan Jepang mendirikan “Komisi Bahasa Indonesia”.  Sesudah merdeka, tahun 1947 dibentuklah “Panitia Pekerja Bahasa Indonesia” bertugas mengembangkan peristilahan, menyusun tata bahasa sekolah dan menyiapkan kamus baru untuk pengajaran bahasa Indonesia di sekolah. Setahun kemudian 1948 diubah menjadi “Balai Bahasa” dan sejak 1 April 1975 berubah menjadi “Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa” yang bertugas sebagai pelaksana kebijakan di bidang penelitian dan pengembangan bahasa.

Dukungan politis terhadap perkembangan dan pengindonesiaan sejumlah istilah asing dalam bahasa Indonesia secara hierarki dapat diurutkan: (1) Sumpah Pemuda 1928; (2) UUD 1945, Bab XV Pasal 36 tentang bahasa negara: (3) Keputusan Presiden Republik Indonesia No.57 Thn.1972 tentang penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan; (4) Instruksi Menteri Dalam Negeri RI No.20 tanggal 28 Oktober 1991 tentang pemasyarakatan bahasa Indonesia dalam rangka pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa;  (5) Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.1/U/1992 tgl 10 April 1992 tentang usaha peningkatan usaha pemasyarakatan bahasa Indonesia dalam memperkukuh persatuan dan kesatuan dan kesatuan bangsa; dan  (6) Surat Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia kepada gubernur, walikota, dan bupati nomor 434/1021/SJ tgl 16 Maret 1995 tentang penertiban penggunaan istilah asing.  

Peran dan kedudukan bahasa Indonesia semasa era Sumpah Pemuda 1928 dikenal sebagai  bahasa pemersatu dan alat perjuangan nasional saat itu.  Kemudian diperkuat oleh konstitusi, dalam UUD 1945 Bab XV pasal 36 menyatakan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia menjalankan tugas sebagai (1) Lambang kebanggaan negara; (2) Lambang identitas nasional; (3) Alat perhubungan antar warga, antardaerah, dan antarbudaya; (4) Alat untuk menyatukan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing.  Dalam kedudukan sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berperan sebagai: (1) Bahasa resmi kenegaraan; (2) Bahasa pengantar di dunia pendidikan; (3) Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan; (4) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. 

Proses perjalanan menentukan bahasa nasional bagi suatu bangsa ternyata tidaklah mudah. Berbanggalah dengan bangsa Indonesia yang telah merumuskan dan memilih  bahasa nasionalnya secara baik.  Hal ini menuntut konsekuensi bagi penggunanya, yakni wajib memelihara dan menggunakannya dengan berbahasa yang baik dan benar serta santun. **** (diolah dari berbagai sumber)


Penulis, mahasiswa PBSI S2
Universitas Suryakancana Cianjur.

Minggu, 05 Februari 2012

HURUP R (Dadan Wahyudin, dimuat di rubrik Kolom, Mangle 2359, 2-8 Februari 2012)

Siap geRRRRRak!! ada huruf R nya euy...

Hurup [r] minangka hurup pituin boh dina bahasa Indonésia ogé bahasa Sunda. Pikeun nu cadél, hurup [r] mangrupa hurup anu hésé dikedalkeun ku lisan kalayan béntés. Aya oge nu sok ngahaja nyingkahan hurup [r] nalika nyebut kecap “Jaka[r]ta” sok dilandi ku kecap “ibukota” anu boga harti sarupa. Kecap “o[r]ay” dilandi ku “cacing badag”. Kacapangan budak cadél sok ditanggap ngedalkeun kecap-kecap anu ngandung hurup [r] resep ku lucuna. Ngarah lancar ngedalkeun hurup [r], mangsa balita (barudak lima taun) ku kolot urang baheula mindeng diajaran kalimah “laleur mapay areuy” pikeun ngalatih hurup [r] sacara lisan sakaligus ngabedakeun jeung hurup [l] anu méh sabangun.

Urang Sumatra nalika nyebut hurup [r] di tengah kecap saperti: pergi, bekerja, atawa beternak, nu kakedalkeun téh ukur : pe[:]gi. Beke[:]ja, atawa bete[:]nak. Tétéla hurup [r] hésé dikedalkeuna.

Numutkeun ahli psikolinguistik Jakobson, émang hurup [r] mangrupa hurup pamungkas anu dipiboga ku balita. Urutan pemeroléhan fonologi (élmu dina widang sora hurup), balita mimita bisa ngedalkeun nyaéta dina hurup [b] [p][d] jeung [t] tinimbang [f] jeung [s], sedengkeun vokal munggaran nu dipikabisa nyaéta vokal lébar [a]. Foném likuida [r] jeung [l] tur sora luncuran (glide) [y] jeung [w] mangrupa foném pamungkas dina kaparigelan bahasa.

Ngeunaan hurup [r], William Labov, sarjana kalahiran Rutherford, New Jersey, AS tanggal 4 Desember 1927 ngayakeun panangtaluntikan sosiolinguistik dina téma “New York City Speech”. Di New York, Labov jadi panaluntik munggaran ngademonstrasikeun penemuan widang basa lisan kalayan daria, netélakeun yén variasi lapal huruf [r] di kota New York dibagi dumasar kana kelas sosial di masarakat. Di New York, lapal [r] dikedalkeun kalayan jelas minangka kaum masarakat nu boga ajén (berprestise) mangrupa jalma anu nyakola, sedengkan di Inggris tibalik, lapal [r] anu béntés tur jelas dianggap golongan jalma biasa waé (henteu berprestise].

Hipotesa hubungan ngalarapkeun lapal hurup [r] jeung kelas sosial diuji dina percobaan nalungtik bahasa lisan para asistén toko di tilu toko swalayan anu miboga statusna buda-béda, nyaéta statusna luhur, sedeng, jeung kulawarga biasa. Prosédur dilakukeun ku pananya ngeunaan toko swalayan anu lanté opat ku bahasa Inggris. “Punten, di mana sapatu kaum istri?” Maranéhna ngajawab “fourth floor”. Dina kalimah éta aya dua kajadian anu jadi obyék panalitian nyaéta dina ngalarapkeun hurup [r]. Tina informasi ieu aya 264 sampel anu dikumpulkeun. Hasilna 38 persen tina asistén toko boga status golongan luhur teu bisa ngedalkeun hurup [r] secara jelas, dina status sedeng 49 persén jeung toko biasa hasilna nyongcolang 83 persén. (Dicutat tina terjemahan buku Sociolinguistic : An Introduction karya Peter Trudgill, Aylesbury, Bucks : 1981).

Hurup [r] dina basa Sunda mangrupa konsonan pituin titinggal karuhun. Bahasa Sunda euyeub ku konsonan [r] boh dilarapkeun di hareup, di tengah atawa di tungtung. Coba titenan, konsonan [r] nu disimpen di harep kecap : [r]euma, [r]eumis, [r]abeng, jste; aya ogé konsonan di tengah, siga : kabeu[r]euyan, a[r]euy, ca[r]angka, jste; atawa disimpen ditungtung siga : mute[r], peda[r], cangéhga[r], jste. Dina kamus, konsonan [r] bisa digunakeun pikeun ngabédakeun harti dua kecap anu méh sarupa kawas: [r]aja jeung [l]aja, [r]ami jeung [s]ami, atawa [r]andu jeung [c]andu.

Konsonan [r] pohara gedé mangpaatna pikeun sajumlah kecap lamun taya hurup [r] bakal ngandung harti “cawokah” nu sok dibalibirkeun ku masarakat. Salila ieu hurup [r] geus nyalametkeun kecap : kont[r]ol miboga harti panalingaan, anu mindeng dipaké ku para pajabat utamana widang pamariksaan. Atawa: kecap dikéwé[r] anu boga harti dijiwir sisi samping nu keur dipaké, bari leumpang. Kecap éwér-éwé[r]an anu boga hartina ngarumbay biasa dilarapkeun kana tali mindeng kénéh dipaké nepi ka kiwari. Pon kitu deui, lembur Nangéwé[r] di hiji wewengkon tetep ngadeg nepi ka kiwari, kusabab aya fungsi jeung mangpaat hurup [r]. Lamun taya hurup [r], duka kumaha nasibna. Hapunten, baraya, ah! ***

Mahasiswa program studi bahasa sastra Indonesia/s2,
Universitas Suryakancana Cianjur